Kaleidoskop 2015: Aksi Bersih-bersih ala Menteri Susi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat peresmian kantor Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal (Illegal Fishing) di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, 15 Desember 2015. TEMPO/Bambang Harymurti

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat peresmian kantor Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal (Illegal Fishing) di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, 15 Desember 2015. TEMPO/Bambang Harymurti

    TEMPO.CO, Jakarta – Fenomenal! Itulah sosok Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Tak hanya tampilan dan perilakunya yang dinilai tak lazim untuk ukuran menteri, gebrakannya dalam pemberantasan pencurian ikan (illegal fishing) juga terbilang berani.

    Sejak ditunjuk sebagai orang nomor 1 di Kementerian Kelautan dan Perikanan, wanita asal Pangandaran yang hobi mengisap cerutu kuba ini sudah “memasang badan” perang terhadap para penjarah kekayaan laut Indonesia. Susi geram dengan aksi parah penjarah ikan yang menyebabkan kerugian negara Rp 300 triliun. Banyak kapal-kapal asing yang mengeruk kekayaan laut dan mematikan nelayan lokal.

    "Mereka pakai kapal berbobot besar dan memakai alat tangkap yang berbahaya yang dapat merusak lingkungan," ucap pemilik maskapai Susi Air tersebut.

    Simak: Kaleidoskop 2015

    Untuk membuat kapok para pencuri ikan, kapal yang tertangkap dibakar dan ditenggelamkan. Kementerian telah menenggelamkan puluhan kapal pencuri ikan. Bagi Susi, pemberantasan illegal fishing merupakan harga mati. Sebab, kejahatan perikanan rentan disusupi kejahatan lain, seperti perbudakan. Ia mengajak negara-negara di dunia peduli terhadap pemberantasan illegal fishing yang masuk kategori kejahatan internasional.

    Aksi “bersih-bersih” pencurian ikan mendapat pujian dan simpati banyak pihak, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Kalla, sejak Menteri Kelautan membakar puluhan kapal, aksi pencurian ikan menurun 50 persen. "Saya kira, apabila bicara maritim, tentu dimaklumi tahun ini tidak ada negara yang ekspansif untuk memerangi illegal fishing selain Indonesia," tutur Kalla.

    Namun tak sedikit yang mengkritik kebijakan penenggelaman kapal, yang dianggap sebagai proyek pencitraan. Tapi sepertinya menteri bersuara berat ini tak bergeming.

    TIM TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.