Panen Raya Diprediksi Mundur, Paceklik Makin Panjang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Panen raya yang biasanya jatuh pada Maret diperkirakan akan mundur hingga dua bulan pada 2016. Penyebabnya adalah mundurnya masa tanam padi akibat kemarau panjang di paruh akhir tahun ini. “Ada pengunduran panen dua bulan, berarti diprediksi panen raya April-Mei,” kata Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu, saat dihubungi, Sabtu, 26 Desember 2015.

    Wahyu menyatakan, prediksi itu didapatnya dalam pertemuan antara Perum Bulog dan para petani Jawa Barat pada Senin, 21 Desember 2015. Dalam forum itu, menurut dia, sekitar 250 petani mitra Bulog umumnya menyatakan keterlambatan masa tanam padi. Sebab, hujan yang biasanya mengguyur sejak September baru tiba sekitar sebulan terakhir.

    Kondisi tersebut, menurut Wahyu, perlu dicermati, sebab Jawa Barat merupakan sentra produksi beras kedua terbesar di Indonesia setelah Jawa Timur.‎ Dengan perhitungan jarak antara tanam dan panen padi adalah tiga bulan, jika tahun ini Jawa Barat baru mulai tanam pada Desember, panen pertama baru akan terjadi pada Maret 2016. “Menurut informasi yang saya dapat, saat ini baru sedikit daerah yang mulai masa tanam, yang lain kemungkinan baru bulan depan,” tuturnya.

    Mundurnya panen raya berarti musim paceklik bakal makin panjang. “Kalau normal puncak paceklik itu Januari-Februari, kalau sekarang bisa sampai bulan Maret," kata Ketua Umum Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) yang juga mantan Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso.

    Penyebabnya ‎ialah El Nino yang membuat kemarau berkepanjangan. Harusnya tanam besar dilakukan pada Oktober. Tetapi sangat minimnya curah hujan saat itu membuat para petani, terutama yang sawahnya tadah hujan alias mengandalkan air dari hujan, belum bisa menanam.

    Sutarto yang juga mantan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian ini menyatakan, pemerintah harus segera mengantisipasi kondisi ini. Izin impor beras untuk Bulog akan segera habis pada 31 Desember 2015. Pemerintah harus benar-benar memastikan stok cukup, minimal sampai masa panen tiba. “Kalau memang tidak cukup, bila perlu perpanjang izin impor Bulog agar pasar terkontrol,” katanya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.