Capai Swasembada Susu Nasional, Ini Dua Syaratnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sapi perah. ANTARA/Jefri Aries

    Ilustrasi sapi perah. ANTARA/Jefri Aries

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah diminta memberikan stimulan kepada peternak berupa pengadaan bibit sapi perah dan pakan guna mencapai swasembada susu pada 2020. Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Dedi Setiadi mengatakan dua instrumen tersebut diperlukan agar produksi susu di dalam negeri naik signifikan.

    Menurutnya, bantuan bibit dan pakan merupakan syarat mutlak agar Indonesia mampu mewujudkan swasembada susu nasional. "Apalagi produksi susu nasional akan bersaing pada pasar bebas Asean mulai akhir Desember ini," ujarnya kepada Bisnis, Senin 21 Desember 2015.

    Dia mengutarakan program penyediaan pakan ternak serta pengadaan bibit sapi bisa melibatkan koperasi ternak, agar manajemen pengelolaannya lebih mudah. Nantinya, peternak membeli pakan rerumputan serta bibit sapi jika pemerintah memberikan kemudahan dalam berbagai bentuk program.

    Pihaknya optimistis apabila pengadaan bibit dan pakan direalisasikan, produksi susu pada 2016 bisa meningkat minimal 3 persen. "Tentunya program ini tidak gratis. Yang paling penting pemerintah mempermudah akses pembelian pakan serta bibit agar lebih murah," tegasnya.

    Berdasarkan data GKSI, saat ini jumlah peternak sapi perah hanya 122.750 peternak, dengan populasi sapi 357.450 ekor. Total produksi susu sekitar 1,4 juta-1,6 juta liter/hari atau rerata produksi susu harian hanya 9--12 liter/ekor. Jumlah tersebut turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya mencapai 15-18 liter/ekor.

    Terkait, rencana impor susu pada tahun depan yang diperkirakan naik, pihaknya memandang tidak menjadi masalah karena hanya untuk memenuhi industri pengolahan susu (IPS). "Impor tidak masalah, karena produksi susu dalam negeri memang sudah terserap IPS seluruhnya," ungkapnya.

    Kendati demikian, impor susu diharapkan tidak menjadi ketergantungan sehingga dapat memicu harga susu produksi dalam negeri menjadi rendah. Harus ada patokan harga yang dibanderol oleh IPS antara produksi susu dalam negeri dan impor.

    Menurutnya, kualitas susu di dalam negeri justru lebih bagus dibandingkan dengan impor. Namun, ketersediaan pasokan susu hanya mampu memasok 20% membuat peternak belum bisa memenuhi kebutuhan IPS. "Tetapi, patokan harga penting dibuat untuk menjaga harga pasar di dalam negeri," ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Bidang Usaha dan Pelayanan GKSI Jabar Aun Gunawan menambahkan, proyeksi perkembangan produksi susu sapi untuk setahun mendatang masih terkendala oleh penyediaan lahan hijauan. "Peternak sapi perah di Jabar umumnya tidak punya lahan, sehingga menjadi kendala bagi peningkatan produksi susu ke depan," ujarnya.

    Menurutnya, tidak adanya lahan milik sendiri menyulitkan peternak memberikan pakan hijauan pada sapi mereka bahkan menggunakan rumput jerami. Selain itu, pakan konsentrat pun harganya terus merangkak naik.

    Dihubungi terpisah, Dinas Peternakan (Disnak) Jabar menyusun masterplan peternakan sapi perah guna menggali potensi yang belum tergarap optimal.

    Kepala Disnak Jabar Dody Firman Nugraha mengatakan masterplan disusun dan difokuskan sebagaimana dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2015 dengan tetap mengakomodir bahasan wilayah nonkawasan.

    Hal tersebut juga sejalan dengan dokumen rencana induk pembangunan peternakan dan kesesuaian dengan pengembangan tematik kewilayahan di Jabar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.