Antisipasi Penumpukan Penumpang, Begini Imbauan PT KAI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon penumpang Kereta Api antre untuk memasuki peron di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, 20 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Calon penumpang Kereta Api antre untuk memasuki peron di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, 20 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -   Penumpang kereta api diperkirakan akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan saat liburan akhir tahun. Menurut Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Edi Sukmoro,  kecenderungan penumpang yang selalu datang lebih cepat menyebabkan penumpukan di beberapa titik stasiun. "Jadinya penumpang tidak mengalir, kereta berangkat sore, tapi sudah datang dari pagi. Kapasitas stasiun tidak maksimum," katanya di Stasiun Gambir Jakarta, Ahad 20 Desember 2015.

    PT KAI akan mengimbau agar penumpang tidak terlalu cepat datang ke stasiun untuk menghindari terjadinya penumpukan. "Kami ingin sosialisasi kepada penumpang, masa liburan panjang pasti ada yang tertumpuk di stasiun," ucap Edi.

    Edi berujar, pihak stasiun tentunya menginginkan tidak terjadi penumpukan agar penumpang lebih nyaman.  "Penumpang kalau jadwal kereta sore berangkat ya tidak usah dari pagi tapi bisa dua atau tiga jam sebelumnya."

    Menurutnya,  PT KAI  telah terbiasa menghadapi lonjakan penumpang. Kalau dulu, ada situasi penumpang boleh masuk meski kursi sudah penuh. Saat ini diberlakukan sistem boarding dan pengecekan kursi. "Meskipun ada penipuan, akan ketahuan di atas karena tidak mungkin ada kelebihan penumpang," kata Edi.

    Edi berujar, KAI akan mengerahkan semua personel untuk mengamankan angkutan liburan akhir tahun ini. "Tidak boleh ada yang cuti, semua ada di lapangan. Semua pegawai tidak ada yang cuti. Ini masa kami mau membuktikan melayani penumpang dengan baik. Tidak di meja, mereka di stasiun."

    ARKHELAUS W


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.