Kebijakan Kementan Impor Daging Lidah Sapi Dikritik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata daging sapi di kiosnya di Pasar Pagi, Tegal, Jawa Tengah, 16 Desember 2015. Menurut pedagang, jelang Natal dan tahun baru 2016, harga daging sapi merangkak naik dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu per kilogram. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Pedagang menata daging sapi di kiosnya di Pasar Pagi, Tegal, Jawa Tengah, 16 Desember 2015. Menurut pedagang, jelang Natal dan tahun baru 2016, harga daging sapi merangkak naik dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu per kilogram. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Peraturan Menteri Pertanian tentang impor daging variasi dan daging pangkal lidah yang belum lama terbit dinilai akan menimbulkan persaingan tidak sehat di tingkat pedagang daging sapi lokal.

    Asosiasi Sarjana Membangun Desa (Asosiasi SMD) Eko Dodi Pramono di Jakarta, Jumat, 18 Desember 2015, mengatakan daging jeroan serta kepala (yang terdiri dari: lidah, pipi, dan lainnya) tidak terpakai di negara asal.

    "Di negeri asalnya ini barang buangan yang tidak ada nilainya. Masuk Indonesia bisa dipastikan merusak harga dari komoditas lokal. Kasihan peternak kita," ucapnya.

    Sebelumnya, dalam dokumen resmi Kementan disebutkan telah terbit Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan atau olahan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia pada 25 November 2015.

    Melalui Permentan tersebut, Kementan akan membuka keran impor daging lidah yang merupakan salah satu variasi daging sapi. Eko mengharapkan, kalaupun ada impor jenis tersebut setelah terbitnya Peraturan Menteri Pertanian, seyogianya ada hitungan yang tepat, agar impor tidak melebihi kekurangan dari kebutuhan yang ada.

    Indonesia, tambahnya, termasuk yang masih mengkonsumsi daging jenis tersebut, sehingga daging itu punya nilai jual di pasaran dalam negeri. "Harapannya pemerintah bisa lebih bijak. Ada saatnya pemerintah hadir di hadapan peternak di negeri ini. Sehingga lebih memahami dukanya politik harga daging murah yang asal-asalan tanpa tahu nasib yang di bawah," tuturnya.

    Sementara itu Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Tengah Akbar Mahali mengatakan impor daging variasi tidak masalah, asal tidak menjatuhkan harga di peternak. "Impor itu harus rasional, jangan justru menjatuhkan harga di peternak," tukasnya.

    Ia mengungkapkan daging variasi, seperti daging pipi, lidah, dan kepala yang diimpor tersebut merupakan produk yang tidak terpakai untuk konsumsi di negara asal. "Saya meyakini kualitas daging lokal tetap segar, meskipun impor dikemas secara higienis, tapi kan daging beku," imbuhnya.

    Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana juga 'protes' dengan menyatakan, seharusnya Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan membicarakan bersama serta menelaah berapa volume yang dapat diimpor agar tidak distorsif pada usaha rakyat, yakni penjagal dan pedagang. "Karena hal ini akan berimbas pada peternak rakyat," ucapnya.

    Dia mengakui, jika hanya lidah kemungkinan dampakya tidak terlalu besar karena pangsa pasarnya kecil dan terbatas, tapi demikian apa pun produknya yang akan diimpor harus didasari dengan perhitungan cermat.

    Selain itu, tambahnya, pemerintah juga mestinya memperhitungkan negara asal produk tersebut harus yang benar-benar bebas dari penyakit hewan menular termasuk penyakit mulut dan kuku.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.