Bank Indonesia: Hati-hati Investasi Emas Batangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah emas batangan seberat 1 kilogram dipamerkan di Korea Gold Exchange. Tidak stabilnya perekonomian menyebabkan harga emas mengalami kenaikan. Seoul, Korea Selatan, 31 Juli 2015. REUTERS / Kim Hong-Ji

    Sejumlah emas batangan seberat 1 kilogram dipamerkan di Korea Gold Exchange. Tidak stabilnya perekonomian menyebabkan harga emas mengalami kenaikan. Seoul, Korea Selatan, 31 Juli 2015. REUTERS / Kim Hong-Ji

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Bayu Martanto mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam menginvestasikan uang dalam bentuk emas batangan yang saat ini mulai banyak diminati.

    "Investasi emas batangan harus diperhatikan kondisinya, jangan sampai tertipu," katanya di Pangkalpinang, Rabu, 16 Desember 2015.

    Bayu mengatakan perkembangan bisnis yang cukup sulit membuat banyak masyarakat menginvestasikan sebagian uangnya dalam bentuk emas karena lebih menjanjikan.

    Kegiatan investasi tersebut tidak hanya di Perum Pegadaian saja, tetapi juga di beberapa bank swasta juga mulai menawarkan investasi emas.

    Untuk mengantisipasi penipuan berkedok investasi emas, ia meminta masyarakat harus selektif memilih bank.

    "Masyarakat harus memilih bank yang ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) jika ingin menyimpan investasi emas itu karena lebih aman dan ada yang menjamin jika di kemudian hari terjadi hal yang tidak diinginkan," katanya.

    Menurut dia, investasi emas memang merupakan bisnis yang menjanjikan tapi masyarakat harus tahu dan paham tempat-tempat yang terpercaya untuk berinvestasi agar tidak mengalami kerugian.

    "Kalau salah memilih tempat berinvestasi, bisa-bisa masyarakat mengalami kerugian karena tertipu dan sebagainya," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.