Bulog Gerojok 800 Ribu Ton Beras Impor Awal Tahun Depan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan akan ada stok beras impor tambahan pada awal tahun depan. Tambahan pasokan beras impor itu untuk mengantisipasi beras dari sawah tadah hujan yang diperkirakan baru panen besar pada April 2016.

    "Pengiriman impor yang belum masuk kan ada 800 ribu lagi, tapi ada pemakaian Januari hingga Maret yang harus di-manage dengan baik," kata Djarot saat dihubungi Tempo hari ini, 13 Desember 2015.

    Djarot menjelaskan, dengan adanya El-Nino sawah nonirigasi kemungkinan besar baru dapat menanam pada Desember. Ia memperkirakan panen besar baru dapat dilakukan pada April mendatang. Oleh karena itu, pengelolaan distribusi beras perlu dilakukan dengan baik selama jeda waktu Januari hingga Maret.

    Menurut Djarot, saat ini Bulog masih mengantongi stok beras 1,2 juta ton. Ia memprediksi stok ini akan dipakai hingga menyisihkan lebih-kurang 500 ribu ton. Stok ini ditambah dengan stok 700 ribu ton beras impor yang ditargetkan akan dikirimkan semua pada akhir tahun ini.

    Saat ini memang baru 350 ribu ton beras yang sudah terealisasi. Djarot mengatakan jika 700 ribu ton beras impor dari Vietnam ini terealisasi, akan meningkatkan stok dalam negeri.

    Apabila ditotal, Djarot mengatakan akan ada stok 1,2 juta ton beras untuk stok Januari hingga Maret mendatang. Hal ini akan ditambah dengan impor beras 800 ribu ton dari Thailand dan Vietnam yang akan dikirim berangsur-angsur selama Januari hingga Maret.

    Djarot mengakui data produksi di masing-masing daerah yang minim memang menyulitkan Bulog untuk melakukan pengelolaan yang maksimal. Oleh karena itu, Bulog juga akan melakukan pemantauan berdasarkan harga pasar.

    Djarot mencatat telah terjadi pergerakan harga hampir di seluruh wilayah Indonesia. Bulog juga telah melakukan intervensi pasar dalam rangka mengantisipasi lonjakan harga di daerah.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.