Hipmi: Hadapi MEA, Ekonomi Kreatif Indonesia Harus Kuat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok PKK Mawar Desa Pasirsari menyelesaikan pembuatan alat pembersih berbahan kain perca daur ulang di Bekasi, 23 Februari 2015. Dalam rangka HUT ke-8 PT Pertamina Gas, beri bantuan pelatihan keterampilan ekonomi kreatif. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Kelompok PKK Mawar Desa Pasirsari menyelesaikan pembuatan alat pembersih berbahan kain perca daur ulang di Bekasi, 23 Februari 2015. Dalam rangka HUT ke-8 PT Pertamina Gas, beri bantuan pelatihan keterampilan ekonomi kreatif. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia mendesak pemerintah mengembangkan ekonomi kreatif sebagai salah satu aspek perekonomian andalan dalam menghadapi pasar bebas seiring dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai 2016.

    "MEA sudah di depan mata dan Indonesia harus terus bertumbuh dalam hal ekonomi kreatif," kata Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, 11 Desember 2015.

    Menurut Anggawira, potensi ekonomi kreatif Indonesia sangat besar dan potensial. Sektor ini juga dikenal sebagai sumber daya terbarukan yang tidak ada habisnya untuk diciptakan.

    Hal itu, ujar dia, berbeda dengan sumber daya alam yang suatu saat akan terancam habis atau menipis.

    Lebih dari itu, lanjutnya, ekonomi kreatif juga dapat digunakan sebagai penguatan identitas bangsa Indonesia yang dikenal kaya akan nilai-nilai kearifan lokal.

    "Kehadiran asosiasi bertujuan mensinergikan potensi pengusaha untuk mendorong tumbuhnya start up business (usaha pemula)," katanya.

    Sebelumnya, Menteri Perdagangan Thomas Lembong merasa yakin usaha kecil menengah (UKM) dalam negeri mampu menghadapi pelaksanaan MEA yang akan mulai berlaku aktif pada 1 Januari 2016.

    "Saya sudah keliling ke daerah dan banyak melihat pameran UKM, saya percaya diri, banyak UKM yang punya lebih banyak cerita sukses dan melihat MEA sebagai peluang, bukan takut, merasa tertekan, atau bertentangan dengan integrasi ASEAN," kata Thomas setelah menghadiri Apindo CEOs Gathering di Jakarta, Senin, 7 Desember.

    Thomas mengatakan salah satu upaya pemerintah mendukung keberlangsungan usaha UKM ialah pemerintah telah melakukan deregulasi dan debirokratisasi untuk menyederhanakan proses perizinan dan menyelesaikan masalah regulasi yang tumpang-tindih.

    Senada dengan Thomas Lembong, Menteri BUMN Rini Soemarno memastikan perusahaan milik negara siap menghadapi implementasi MEA mulai 2016 asalkan mampu dan berhasil menjalin sinergi antar-BUMN.

    "Saya mengatakan kita tidak perlu takut menghadapi MEA. Sinergi BUMN membuat perusahaan semakin kuat di dalam negeri sehingga perusahaan asing yang akan masuk dari ASEAN tidak akan maksimal karena BUMN kita semakin kuat," kata Rini saat menutup acara Forum BUMN bertajuk “Sinergi BUMN untuk Transformasi Indonesia" di Jakarta, Kamis, 10 Desember 2015.

    Menurut Rini, memperkuat sinergi BUMN bisa mempertahankan posisi Indonesia di MEA.

    Sebagaimana diberitakan, Republik Indonesia jangan hanya menjadi penonton dan seharusnya dapat memberdayakan secara optimal dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai 2016.



    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.