Persediaan Pupuk Bersubsidi Tahun Depan Dijamin Surplus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pupuk ZA untuk tanaman yang digunakan sebagai bahan olahan nata jeli (nata de coco) yang telah diamankan oleh petugas Polres Bandung di Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, 8 Juli 2015. Nata de coco tersebut diproduksi dengan menggunakan endapan air kelapa yang dicampur pupuk ZA. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Pupuk ZA untuk tanaman yang digunakan sebagai bahan olahan nata jeli (nata de coco) yang telah diamankan oleh petugas Polres Bandung di Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, 8 Juli 2015. Nata de coco tersebut diproduksi dengan menggunakan endapan air kelapa yang dicampur pupuk ZA. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasokan pupuk bersubsidi pada musim tanam 2016 dijamin akan surplus. Sebab persedian pupuk tahun ini masih banyak tersisa akibat belum terserap semua. Aby Radityo, Superintendent Informasi & Komunikasi Departemen Humas PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) mengatakan, saat ini total stok pupuk yang tersedia di gudang lini II (gudang pabrik) dan gudang lini III sebanyak 112.647 ton.

    "Jumlah tersebut belum ditambah produksi harian sebesar 3.500 ton per hari. Cadangan tersebut untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan apabila petani mulai tanam kembali," katanya kepada Bisnis, Kamis, 10 Desember 2015.

    Menurut Aby, saat ini musim hujan belum merata sehingga penyerapan pupuk belum naik drastis. Akan tetapi PT Kujang mengantisipasi dengan mendorong stok ke daerah agar saat kebutuhan pupuk tinggi permintaan tetap bisa dipenuhi.

    Adapun kuota tambahan pasokan pupuk pada tahun depan belum bisa ditetapkan karena jumlah kebutuhan belum ada angka pasti. Biasanya penambahan kuota pupuk diputuskan lewat Peraturan Menteri Pertanian tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi untuk sektor pertanian. "Yang sudah ada kepastian adalah mengenai Harga Eceran Tertinggi saja seperti yang sudah dipublikasikan," ujarnya.

    Dia menjelaskan penyebab rendahnya penyerapan pupuk pada tahun ini karena musim kemarau yang berkepanjangan, membuat para petani di berbagai daerah kesulitan mendapatkan suplai air agar bisa bercocok tanam.

    Sementara itu, petani di Jawa Barat meminta pemerintah setempat untuk mewaspadai kelangkaan pupuk bersubsidi menyusul musim tanam sudah dimulai seiring memasuki awal musim hujan.

    Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Sastraatmadja menyatakan memasuki awal musim penghujan dipastikan petani memerlukan pasokan pupuk lebih banyak untuk pertanian mereka.

    Sehingga, ujar dia, agar ketersediaan pupuk maksimal maka diperlukan pengawasan yang lebih ketat di lapangan. "Rencana defitif kebutuhan kelompok (RDKK) pupuk bersubsidi yang disusun di tingkat kabupaten/kota harus sesuai dengan peruntukannya," ujarnya.

    Dia menjelaskan RDKK tersebut harus disusun sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga perhitungan kebutuhan pupubk bersubsidi bagi petani tepat sasaran. "Nanti bupati/wali kota menetapkan rekomendasi kebutuhan ke gubernur untuk di SK-kan. Nah jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan," katanya.

    Kendati demikian, Entang melanjutkan, biasanya kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi karena adanya permainan dari oknum yang tidak bertanggung jawab. "Selama ini selalu ada saja permainan-permainan yang dilakukan oleh oknum di lapangan yang membuat kelangkaan pupuk," ujarnya.

    Dihubungi terpisah, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat akan mulai mendata kebutuhan pupuk bersubsidi untuk setiap kabupaten/kota di kawasan itu. Kepala Bidang Sumber Daya Diperta Jabar Ibrahim Sjaf menyatakan alokasi pupuk bersubsidi harus sesuai peruntukannya karena dikhawatirkan rawan penyelewengan di lapangan.

    Kendati demikian, pihaknya belum mengetahui jumlah pasti alokasiuntuk kabupaten/kota. Pasalnya saat ini pihaknya baru menerima alokasi dari Kementan. "Alokasi tahun 2016 baru saja kita terima dari Kementan. Rencana akan bahas minggu depan untuk alokasi untuk setiap kabupaten/kota," ujarnya.

    Menurutnya, pembahasan alokasi pupuk bersubsidi akan melibatkan kelompok tani serta stakeholder terkait. Hal ini dilakukan untuk mengalokasikan pupuk bersubsidi sesuai jumlah yang ada. "Kami tidak ingin alokasi ini salah, sebab kalau rawan penyelewengan akan menjadi masalah," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.