Perusahaan BUMN Ini Kelola Kontrak Rp 100 Triliun Tahun 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT. Waskitakarya (Persero) Tbk. M. Choliq (tengah), menjelaskan kepada wartawan dalam acara penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) di Jakarta, Kamis (22/11). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Direktur Utama PT. Waskitakarya (Persero) Tbk. M. Choliq (tengah), menjelaskan kepada wartawan dalam acara penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) di Jakarta, Kamis (22/11). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Waskita Karya (Persero) menargetkan meraih kontrak pengerjaan proyek sebesar Rp 100 triliun pada awal 2016, dengan total aset mencapai Rp 43 triliun. "Tahun depan kontrak yang dikerjakan Waskita mencapai Rp 100 triliun, terdiri atas 34 persen kontrak baru dan 66 persen kontrak carry over (peralihan dari tahun sebelumnya)," kata Direktur Utama Waskita M. Choliq, di Forum BUMN: "Sinergi BUMN Untuk Transformasi Indonesia", di Jakarta, Kamis, 10 Desember 2015.

    Menurut Choliq, kontrak yang diraih pada 2016 tersebut sejalan dengan ekspansi bisnis perusahaan selain sebagai kontraktor juga menggarap proyek-proyek jalan tol. Dengan rencana bisnis tersebut, tahun depan Waskita menargetkan pendapatan sebesar Rp 30 triliun, meningkat dari pendapatan tahun 2015 yang diproyeksikan mencapai Rp15 triliun.

    Sementara, laba tahun 2016 diperkirakan menembus Rp 2 triliun, naik dari tahun 2015 yang diperkirakan mencapai sekitar Rp800 miliar. Pada tahun 2016, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp10 triliun.

    Choliq menjelaskan, sejumlah proyek yang mulai dibangun pada 2016 seperti empat ruas jalan tol antara lain ruas Kuta-Canggu-Tanah Lot-Soka sepanjang 28 kilometer, Soka-Pekutatan 25,1 kilometer, Pekutatan-Gilimanuk 54,4 kilometer dan Pekutatan-Lovina sepanjang 46,7 kilometer.

    Khusus untuk jalan tol, kataCholiq, pada 2016 Waskita akan mengakuisisi setidaknya 2-3 ruas jalan tol.  Untuk membiayai belanja modal sebesar Rp 10 triliun 2016 tersebut, Choliq mengatakan, 70 persen akan berasal dari pinjaman perbankan. Sisanya, sebesar 30 persen persen akan dianggarkan dari kas internal perseroan. "Dana dari modal sendiri ekuitas kami sudah Rp 9 triliun. Ini untuk biaya tol, sisanya pinjaman bank. Porsinya bank 70 persen, 30 persen kami," ujarnya.

    Pada 2016, Waskita tidak masuk dalam jajaran BUMN yang akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN). "Tidak masalah tidak mendapat modal dari negara. Tidak mempengaruhi bisnis secara keseluruhan, karena Waskita mempunyai bisnis jalan tol yang sangat bagus," tegasnya.

    Untuk itu Choliq mengatakan, Waskita dapat mensiasati pembiayaan capex dengan menerbitkan surat utang (obligasi) yang dijadwalkan pada semester II 2016. "Nilai obligasi belum bisa diungkapkan. Tapi yang pasti belanja modal dibiayai pinjaman perbankan dan mengkombinasikannya dengan obligasi," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.