Akhir Tahun, Sriwijaya Air: Jumlah Penumpang Naik 10 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja memepersiapkan keberangkatan pesawat Sriwijaya AIR di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, kemarin. Sriwijaya Air kembali membuka rute baru, Makassar-Luwuk (Sulteng), mulai 13-8, 2012. TEMPO/iqbal Lubis

    Sejumlah pekerja memepersiapkan keberangkatan pesawat Sriwijaya AIR di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, kemarin. Sriwijaya Air kembali membuka rute baru, Makassar-Luwuk (Sulteng), mulai 13-8, 2012. TEMPO/iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan Sriwijaya Air mengklaim sudah siap menghadapi lonjakan penumpang saat libur akhir tahun. "Setiap hari, kami siap mengantisipasi lonjakan penumpang," kata Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Agus Soedjono saat dihubungi Tempo, Sabtu, 5 Desember 2015.

    Meski baru memasuki awal Desember 2015, lonjakan penumpang pada libur natal dan akhir tahun sudah dirasakan Sriwijaya Air. Namun, ucap Agus, kenaikan jumlah penumpang itu masih bisa diatasi.

    Agus menuturkan Sriwijaya Air sebelumnya telah menargetkan jumlah penumpang bakal naik 5-10 persen pada akhir tahun ini untuk semua rute. "Soal tercapai atau tidak, baru bisa dilihat pada Januari nanti," ujarnya.

    Meski beberapa kota wisata pasti menjadi tujuan menarik untuk berlibur, menurut Agus, kota tersebut tak selalu menjadi pilihan wisatawan. Ada pula mobilisasi untuk kunjungan keluarga. "Semua kota menarik untuk dikunjungi. Semacam mudik," ucap Agus.

    Lebih jauh, Agus mengatakan peningkatan jumlah penumpang pada waktu liburan juga dipengaruhi kebutuhan orang saat ini yang ingin lebih cepat dan lebih baik. "Transportasi udara sangat diperlukan," ujar Agus.

    Sriwijaya Air, tutur Agus, tak menawarkan program khusus untuk liburan akhir tahun ini. "Kami hanya memberi pelayanan terbaik."

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).