Bonn Challenge, RI Berkontribusi Merestorasi Hutan Rusak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah tenda milik perambah berada di tengah hutan yang rusak terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Presiden Joko Widodo telah memutuskan memperpanjang moratorium hutan. Namun, keputusan itu dinilai masih lemah dalam substansinya dan masih membuka peluang eksploitasi hutan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    Sebuah tenda milik perambah berada di tengah hutan yang rusak terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Presiden Joko Widodo telah memutuskan memperpanjang moratorium hutan. Namun, keputusan itu dinilai masih lemah dalam substansinya dan masih membuka peluang eksploitasi hutan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia siap berkontribusi dalam komitmen restorasi bentang alam skala nasional sebagai bagian dari Bonn Challenge.

    Bonn Challenge merupakan komitmen global untuk merestorasi 150 juta hektare lahan terdegradasi dan lahan terdeforestasi pada tahun 2020.

    “Pemerintah Indonesia akan mengajak partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan kalangan bisnis,” kata Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hadi Daryanto dalam siaran pers, Jumat (4 Desember 2015).

    Hal itu dikatakannya dalam sebuah diskusi di Paviliun Indonesia di Paris, Prancis, dalam rangka Konvensi Perubahan Iklim PBB. Turut jadi panelis perwakilan Forum Komunikasi Konservasi Indonesia (FKKI) dan President World Resources Institute Andrew Steer.

    Pemerintah sendiri berencana merestorasi 2 juta hektare (ha) lahan gambut yang rusak selama lima tahun mendatang. Restorasi akan dilakukan oleh Badan Restorasi Ekosistem Gambut.

    KLHK mengestimasi dibutuhkan biaya Rp30 triliun–Rp54 triliun untuk kegiatan restorasi, baik dari segi hidrologi maupun vegetasi. BREG akan mengkoordinasikan instansi-instansi pemerintah terkait a.l. Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

    Sementara itu, dari Konvensi Perubahan Iklim PBB dilaporkan tengah berlangsung negosiasi perumusan langkah aksi pencegahan perubahan iklim.

    Ketua Delegasi WWF, lembaga konservasi alam, Tasneem Essop mengungkapkan negosiasi berlangsung alot untuk mencari jalan keluar guna melindungi dunia dari kerusakan akibat perubahan iklim. “Para negosiator memerlukan kerja keras untuk mengubah teks negosiasi menjadi kesepakatan yang ambisius dan setara,” ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?