Genjot Penerimaan, Plt Dirjen Pajak: Saya Tidak Bisa Meramal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas pajak menunjukkan stiker Tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) - Perdesaan dan Perkotaan (P2) di depan bangunan PT Dok dan Perkapalan Koja Bahari, Tanjung Priok, Jakarta, 23 November 2015. Tunggakan pajak PT ini mencapai Rp. 11 miliar. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas pajak menunjukkan stiker Tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) - Perdesaan dan Perkotaan (P2) di depan bangunan PT Dok dan Perkapalan Koja Bahari, Tanjung Priok, Jakarta, 23 November 2015. Tunggakan pajak PT ini mencapai Rp. 11 miliar. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiastedi berjanji akan berusaha keras meningkatkan pendapatan pajak sampai akhir 2015. Namun Ken mengaku tidak mengetahui besaran pajak yang akan berhasil dikumpulkan nanti.

    "Saya akan maksimal kejar penerimaan lebih besar daripada bulan-bulan sebelumnya. Tapi saya tidak bisa meramal," kata Ken di kantornya seusai acara peringatan Hari Antikorupsi, Jakarta, Kamis 3 Desember 2015.

    Ken menggantikan Sigit Priadi Pramudito yang mengundurkan diri lantaran target pajak 2015 tidak tercapai. Penerimaan pajak baru mencapai 65 persen atau Rp 841,276 triliun dari target Rp 1.294,273 triliun.

    Sigit memprediksi penerimaan pajak 2015 hanya 82-85 persen. Namun Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro optimistis penerimaan pajak 85-87 persen. "Menteri perintahkan saya laksanakan demikian. Banyak kalangan bertanya, bisa tidak? Saya bilang insya Allah," ujar Ken.

    Desember ini, Ken menjelaskan ada wajib pajak yang membayar Rp 11,475 triliun. "Itu baru satu wajib pajak. Kalau ada sepuluh, bagaimana? Kan tidak tahu," ucap Ken. Yang terpenting dalam menarik pajak dengan jumlah besar, menurut Ken, "Kita harus tahu subyek dan obyek, baru tahu tarifnya berapa."

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.