Wapres JK: Kekurangan Penerimaan Pajak Tak Mungkin Terkejar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi sambutan saat pembukaan Munas Kadin ke VII di Trans Hotel, Bandung, Jawa Barat, 23 November 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi sambutan saat pembukaan Munas Kadin ke VII di Trans Hotel, Bandung, Jawa Barat, 23 November 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan penerimaan pajak masih kurang dari Rp 430 triliun dari target tahun ini, Rp 1.294 triliun. Dia tidak yakin dalam sisa akhir tahun ini pemerintah dapat mengejar kekurangan penerimaan tersebut.

    "Kami terbuka saja bahwa tidak mungkin dalam waktu Desember itu pendapatan pajak Rp 400 triliun itu terkejar. Maka itu berarti kita kekurangan penerimaan pajak," kata dia saat membuka acara Economic Outlook 2016, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015.

    Kekurangan penerimaan pajak ini hanya dapat ditambal dengan dua solusi. Kalla menyebutkan kekurangan penerimaan pajak ini dapat diatasi dengan mengurangi pengeluaran atau menambah utang. "Itu tidak ada solusi lain," katanya.

    Pengeluaran negara yang bisa dikurang, kata dia, adalah anggaran pembangunan. Alasannya karena tidak mungkin pemerintah mengurangi gaji pegawai dan hal lain.

    "Tentu bisa dikurangi anggaran rapat dan hal-hal lain tapi yang biasanya dibintangi adalah anggaran pembangunan," katanya. Maka dari itu, Kalla ingin sejak awal semua pihak harus mengikat pinggang untuk mengurangi anggaran yang tidak penting.

    Menurut dia, pengurangan anggaran harus memperhatikan lapangan kerja dan produktivitas. Dia mencontohkan saat ada pelarangan rapat pemerintah di hotel, banyak pengusaha yang protes. Pemerintah juga tidak ingin banyak pemutusan hubungan kerja di sektor perhotelan.

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.