Ekonomi ASEAN Diprediksi Hanya Tumbuh 4,6 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Imam Yunni

    TEMPO/Imam Yunni

    TEMPO.CO, Jakarta - Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), salah satu organisasi internasional profesi akuntan, memprediksi perekonomian negara-negara ASEAN tahun ini akan tumbuh 4,6 persen. Proyeksi baru ini turun dari perkiraan sebelumnya, 4,7 persen. "Kebanyakan dari prediksi pertumbuhan ekonomi ASEAN menurun setelah melambatnya ekonomi Tiongkok," ujar Direktur ICAEW untuk kawasan Asia Tenggara, Mark Billington, pada diskusi Economic Insight South East Asia Q4-2015, di Hotel JW Marriott, Jakarta, Jumat, 27 November 2015.

    Mark menuturkan negara-negara di Asia Tenggara secara historis memiliki kekuatan ekonomi yang kuat melalui ekspor. Tetapi, beberapa waktu terakhir muncul tantangan yang kemudian berisiko terhadap performa ekonomi ASEAN. Tantangan tersebut, antara lain rendahnya harga komoditas, melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina, perdagangan dunia yang sedang melemah, ketidakpastian kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (FFR), dan melemahnya pasar ekspor ASEAN.

    Menurut Mark, masalah-masalah tersebut berdampak pada melambatnya ekonomi, khususnya berkaitan dengan produktivitas di tengah krisis global. "Ini kemudian membuat kekhawatiran akan pertumbuhan jangka menengah di wilayah ASEAN," katanya.

    Oleh sebab itu, hal terpenting yang dibutuhkan negara ASEAN saat ini adalah diversifikasi ekonomi, yakni agar segera menjauh dari ketergantungan terhadap bahan-bahan mentah. Terlebih, harga komoditas masih akan terus melemah selama beberapa waktu ke depan.

    Mark mengatakan dalam jangka panjang, diversifikasi ekonomi ASEAN ini akan mengarah pada hal yang lebih menguntungkan. Setiap negara ASEAN, nantinya diharapkan dapat menawarkan barang dan jasa yang berbeda dengan negara lain, untuk dapat memastikan pendapatan ekspornya.

    Secara khusus, Mark menilai tujuan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan dimulai di 2016 adalah untuk melihat anggota negaranya dapat berinvestasi dan membangun kapasitas produktif di wilayah ini. "Jika negara ASEAN bisa beradaptasi dengan pola perdagangan atau lebih fokus ke perdagangan intra-regional, pasti dapat menghadapi tantangan ekonomi yang menghadang," ujar Mark.

    Pada kesempatan yang sama, Economic Advisor ICAEW, Danae Kyriakopoulou, mengatakan pemerintah Indonesia sebelumnya telah secara strategis mengambil keuntungan saat harga-harga meningkat. Indonesia juga memberikan investasi jangka panjang yang cocok. "Namun saat ini merupakan kesempatan yang baik bagi pemerintah untuk melihat kesempatan dalam industri manufaktur dan layanan jasa," ujarnya. "Untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik."

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).