Meski Penjualan Loyo, Pebisnis Pertahankan Segmen Bebek

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan PT Astra Honda Motor sedang melakukan perakitan sepeda motor Honda SupraX125. AHM merilis warna dan stripe baru Honda SupraX125 untuk memperkuat posisinya sebagai raja motor bebek. (Dok. AHM)

    Karyawan PT Astra Honda Motor sedang melakukan perakitan sepeda motor Honda SupraX125. AHM merilis warna dan stripe baru Honda SupraX125 untuk memperkuat posisinya sebagai raja motor bebek. (Dok. AHM)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kontribusi penjualan sepeda motor bebek terhadap total pasar kendaraan roda dua kian tergerus, meski demikian pelaku industri tetap mempertahankan eksistensi segmen tersebut.

    Asosiasi Industri Sepeda Motor Inonesia (AISI) mencatat, pada 2013 kontribusi penjualan segmen bebek atau underbone mencapai 22,8% dengan total penjualan sebanyak 1,7 juta unit dari total pasar sepeda motor 7,7 juta unit.

    Pada 2014 kontribusi segmen bebek terhadap total penjualan sepeda motor menjadi 18,68% dengan penjualan sebanyak 1,4 juta unit dari total pasar mencapai 7,9 juta unit. Adapun kontribusi segmen bebek pada periode Januari-Oktober sebanyak 12,78% dengan penjualan 715.650 unit dari total pasar yang menapak 5,6 juta unit.

    Sementara itu, kontribusi sepeda motor segmen sport sejak 2013 hingga Oktober tahun ini relatif stabil tidak jauh beranjak dari kisaran 12% hingga 14%. Sedangkan sisanya didominasi segmen skuter matik (skutik).

    Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM) Margono Tanuwijaya menyebut, pasar segmen bebek memang terus tergerus terutama karena dominasi segmen skutik. Meski demikian, pihaknya tak ragu melakukan penyegaran di segmen bebek andalannya belum lama ini yaitu produk New Honda Supra X 125 FI dan New Honda Blade 125 FI.

    Sebabnya di beberapa daerah di Indonesia segmen bebek masih menjadi primadona. Dia menyebut kedua model tersebut dikembangkan sesuai kebutuhan saat ini dengan tetap mempertahankan berbagai keunggulan dengan teknologi maupun fitur yang membuatnya hemat bahan bakar, berperforma tinggi, handal dan ramah lingkungan.

    “Di beberapa daerah yang infrastrukturnya seperti kondisi jalan kurang baik bebek masih digemari. Karena di daerah-daerah seperti itu bebek dianggap lebih tangguh,” katanya kepada Bisnisi akhir pekan lalu.

    Executive Vice President PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Dyonisius Beti mengakui jika saat ini secara total segmen underbone terus tergerus segmen skuter matik.  Meski demikian Dyonisius optimistis pasar bebek masih ada.

    Terlebih, lanjut dia,  jika pabrikan menawarkan produk dengan inovasi yang menarik. Dyonisius mengatakan, permintaan segmen bebek masih tinggi di luar kawasan Pulau Jawa. Dia mencontohkan permintaan di Sumatera Utara, Kalimantan dan Sulawesi bisa mencapai 60% dari total penjualan segmen bebek.

    “Mungkin ada faktor di Jawa jalanan mulus sedangkan di luar Jawa banyak infrastruktur yang belum baik dan lebih nyaman dilalui segmen bebek. Tidak semua orang mau pakai sepeda motor kencang dengan segmen sport tapi memilih bebek karena cocok untuk postur kecil” ujarnya dalam kesempatan berbeda.

     Di tahun ini, untuk mempertahankan pasar bebek Yamaha meluncurkan Jupiter MX dan Jupiter MX King. Produk yang memiliki konsumen setia di Indonesia tersebut diharapkan dapat menjaga kontribusi segmen bebek di kisaran 20% terhadap total penjualan Yamaha di Tanah Air.

    Deputy Head Sales Promotion Department PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) Michael Chandra Tanadhi mengamini meski tergerus segmen bebek masih memiliki tempat di hati pencinta sepeda motor Tanah Air.

    Di sisi lain, saat ini KMI hanya memasarkan dua segmen sepeda motor di Indonesia yaitu segmen bebek dan sport. Segmen sport sendiri menjadi tulang punggung pabrikan asal Jepang tersebut. Dari sekian banyak varian yang dipasarkan, hanya terdapat satu varian segmen bebek Kawasaki yaitu Athlete.

    “Di daerah pasar bebek masih cukup baik khususnya dengan kondisi jalan yang kurang baik. Tapi kami belum ada rencana mengeluarkan varian baru segmen bebek atau bahkan melakukan setop pemasaran karena masih ada konsumen loyal untuk Athlete karena dikenal ‘bandel’,” ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).