IPPR: Resesi di Eropa Berpotensi Permanen, Ini Penyebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para buruh industri metal melakukan demonstrasi di Turin, Italia (13/12). Mereka menuntut pemerintah dapat mengatasi krisis keuangan yang sedang melanda Eropa. AP/Fabio Ferrari, Lapresse

    Para buruh industri metal melakukan demonstrasi di Turin, Italia (13/12). Mereka menuntut pemerintah dapat mengatasi krisis keuangan yang sedang melanda Eropa. AP/Fabio Ferrari, Lapresse

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga pemikir (think thank) berhaluan kiri, IPPR, memperkirakan Eropa bakal terus didera krisis berkepanjangan dan berpotensi permanen.

    Dalam laporan terbarunya, IPPR menyebutkan pengangguran dan setengah pengangguran di negara-negara Eropa meningkat signifikan. Diperkirakan jumlah warga yang tak bekerja itu semakin mengkhawatirkan.

    Jumlah pengangguran di Eropa kini mencapai 10 persen dan setengah pengangguran 5 persen. Salah satu negara terparah adalah Inggris karena faktor rendahnya produktivitas.

    Secara umum, tingkat pengangguran di Uni Eropa mengalami penurunan. Berdasarkan data, tingkat pengangguran resmi di 28 negara Uni Eropa pada September tercatat 9,3 persen, turun dari bulan sebelumnya 9,4 persen. Sementara tingkat pengangguran di 19 negara yang menggunakan mata uang euro turun dari 10,9 menjadi 10,8 persen.

    Dalam laporannya, IPPR memuji Jerman dalam mengatasi masalah pengangguran. Menurut IPPR, negara-negara Eropa lain harus mencontoh bagaimana Jerman dalam meningkatkan produktivitas  dan keterampilan kerja. Jerman, negara dengan perekonomian terbesar di Eropa, memiliki anggaran 50 persen lebih tinggi untuk penelitian dan pengembangan.

    Sementara Inggris, anggaran untuk penelitian dan pengembangan mengalami penurunan sejak 2008, terbesar dibandingkan negara-negara Eropa lain. Hal ini membuat produktivitas tenaga kerja di Inggris semakin rendah.  

    SETIAWAN ADIWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.