Kalbe Farma Gandeng Blackmores Bangun Pabrik Vitamin Herbal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan farmasi nasional, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), menggandeng Blackmores Ltd Australia untuk mendirikan perusahaan patungan PT Kalbe Blackmores Nutrition, yang bergerak di bidang bisnis produk vitamin dan suplemen.

    Presiden Direktur Kalbe Farma Irawati Setiady mengatakan, kesepakatan tersebut ditandatangani kedua belah pihak melalui anak usaha masing-masing, yaitu Blackmores International Pte. Ltd dan PT Sanghiang Perkasa. "Kerja sama ini adalah bagian dari strategi kami untuk meluncurkan produk kesehatan berbasis natural dan herbal," kata dia di Jakarta, Kamis, 19 November 2015.

    Irawati mengatakan, perusahaan gabungan ini berencana membangun pabrik di area Jabodetabek hingga dua tahun mendatang dengan modal awal sebesar US$ 8-10 juta atau setara dengan Rp 110-137 miliar. Nantinya produk yang dikembangkan adalah jenis multivitamin dan nutrisi untuk kebutuhan sehari-hari, yang akan menyasar segmen pasar premium di Indonesia. "Pembagiannya kami 50 persen, dan mereka 50 persen.”  

    Chief Executive Officer Blackmores Australia Christine Holgate mengatakan, kerja sama dengan Kalbe dijalin untuk mengembangkan produk herbal dan alami. Ia menargetkan kekayaan herbal Indonesia bisa lebih ekspansif dan dikenal di luar negeri.

    Kalbe Farma sebelumnya memangkas target penjualan dan laba tahun ini setelah mempertimbangkan perlambatan ekonomi nasional yang akan berdampak pada melemahnya pasar domestik.

    Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menyatakan, perusahaan juga terkena dampak fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat karena mayoritas bahan baku merupakan hasil impor. "Kami memangkas target penjualan dari sebelumnya tumbuh 11-13 persen menjadi hanya tumbuh 7-9 persen," kata dia.

    Menurut Vidjongtius, perseroan juga memangkas target laba bersih, dari sebelumnya dipatok tumbuh 14-16 persen menjadi hanya 9-11 persen. Meski demikian, perseroan tetap mempertahankan target margin laba operasi sebesar 16-17 persen, serta belanja modal sekitar Rp 1,1 triliun untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.

    Pemangkasan itu juga mempertimbangkan faktor internal. Sebab, perusahaan terkena dampak penarikan produk Buvanest Spinal dan penghentian produksi pabrik Line 6.

    Perseroan secara bertahap akan menggenjot pasar ekspor seiring dengan melemahnya pasar domestik akibat perlambatan ekonomi. Perseroan akan menggenjot pasar Filipina, Myanmar, Thailand, Singapura, Nigeria, dan Afrika Barat.

    Vidjongtius berujar, saat ini, pasar ekspor baru menyumbangkan 5 persen dari nilai total penjualan, sedangkan 95 persen masih dari pasar domestik. "Kami berharap pertumbuhan ekspor bisa di angka belasan, yakni sekitar 15 persen."

    Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menilai upaya Kalbe Farma untuk mengoptimalkan ekspor cukup bagus. Langkah perusahaan yang terus berupaya mengembangkan produk dianggap bisa menjaga investor. "Itu bagian dari strategi dan bisa meningkatkan brand perusahaan dengan ekspor," katanya.

    MAYA AYU PUSPITASARI | ADITYA BUDIMAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.