Berdayakan Nelayan, OJK Terbitkan Kartu Jaring  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal nelayan bersandar menunggu malam tiba untuk melaut di Kampung Nelayan Cilincing, Kalibaru, Jakarta Utara, 5 Agustus 2014. Mayoritas pencari ikan tersebut tergolong nelayan kecil dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT) yang akan dibatasi Solar Bersubsidi oleh pemerintah. TEMPO/Dasril Roszandi

    Kapal nelayan bersandar menunggu malam tiba untuk melaut di Kampung Nelayan Cilincing, Kalibaru, Jakarta Utara, 5 Agustus 2014. Mayoritas pencari ikan tersebut tergolong nelayan kecil dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT) yang akan dibatasi Solar Bersubsidi oleh pemerintah. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.COJakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kartu Jaring untuk para nelayan dan pengusaha sektor kelautan serta perikanan guna kemudahan merekam transaksi keuangan. "Jadi semua pelaku bisnis sektor ini akan terekam data dan informasi keuangannya karena mereka sebenarnya sangat prospek dan visible," kata Direktur Pengawasan Bank Otoritas Jasa Keuangan Slamet Edi Purnomo di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu, 18 November 2015.

    Edy menambahkan, program ini merupakan tindak lanjut hasil kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk  mendukung akselerasi pembiayaan para nelayan dan pelaku bisnis sektor tersebut. "Yang mendukung pembiayaan bukan hanya perbankan, tapi asuransi dan penyedia jasa keuangan lain di bawah OJK," ujarnya.

    Penerbitan kartu Jaring dan realisasi penyaluran kredit untuk sektor kelautan dan perikanan ini merupakan tindak lanjut dari program Jangkau, Sinergi, dan Guideline (Jaring), yang diluncurkan OJK bekerja sama dengan KKP pada 11 Mei 2015, di Takalar, Sulawesi Selatan. Tujuan program ini adalah meningkatkan akses masyarakat, khususnya nelayan dan pengusaha nelayan, pada jasa keuangan yang lebih luas sehingga dapat lebih sejahtera.

    OJK berharap sektor kelautan dan perikanan dapat bergerak lebih optimal dengan adanya dukungan pembiayaan dan fasilitas jasa keuangan dari perbankan. "Selama ini mereka dibiayai rentenir saja lancar, apalagi dibiayai perbankan. Kami harap lebih lancar lagi karena dibiayai dana murah," tutur Edy.

    Edy berujar, penerbitan kartu Jaring ini dilakukan untuk mendukung program inklusi keuangan agar para nelayan dapat lebih mengenal layanan jasa perbankan, melalui tabungan, kredit, dan layanan lainnya. "Jadi kita juga bisa memonitor pendapatan mereka, ini nanti mempermudah buat kasih pinjaman ke mereka, dari cashflow itu jadi acuan."

    Target dari program ini adalah semua jenis usaha pada sektor kelautan dan perikanan atau semua stakeholder utama sektor tersebut. Seperti nelayan skala kecil menengah, pembudidaya, pengolah, dan pemasar.

    Realisasi penyaluran kredit baru sektor kelautan perikanan yang dikucurkan oleh bank partner OJK serta Kementerian Kelautan dan Perikanan sampai akhir September 2015 mencapai Rp 4,41 triliun, atau 82,09 persen dari total target kredit yang disalurkan hingga akhir tahun sebesar Rp 5,37 triliun.

    Terdapat delapan bank yang saat ini sudah berpartner untuk program ini, yaitu Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), Bank Danamon Indonesia, Bank Permata, Bank Bukopin, dan Bank Sulselbar. Adapun total pembiayaannya pada Desember 2014 mencapai Rp 10,8 triliun, dengan komitmen pertumbuhan pembiayaan hingga Desember 2015 sebesar Rp 7,2 triliun atau rata-rata tumbuh sebesar 66,2 persen dari total pembiayaan tahun lalu.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.