Menteri Arief Beberkan 10 Destinasi Pariwisata Baru pada 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pariwisata, Arief Yahya di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    Menteri Pariwisata, Arief Yahya di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pariwisata Arief Jahja membeberkan sepuluh destinasi pariwisata baru untuk dipromosikan pada 2016. “Kami akan berfokus membangun sepuluh destinasi baru di luar Bali tentunya,” katanya dalam acara Tempo Economic Briefing, Selasa, 17 November 2015, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta.

    Arief menuturkan destinasi unggulan pariwisata saat ini ditempati oleh Bali yang menyumbang 40 persen wisatawan mancanegara, Jakarta 30 persen, dan Kepulauan Riau sebesar 20 persen. Adapun sepuluh destinasi tersebut terdiri atas Danau Toba, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika Lombok, Pulau Komodo, Taman Nasional Wakatobi, dan Morotai.

    Ia pun mengungkapkan rasa bangganya karena Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dalam daftar peringkat destinasi wisata favorit dunia. “Jadi ranking kita 47, Malaysia 96, ini untuk pertama kalinya kita kalahkan Malaysia,” ujar Arief. 

    Indonesia juga berhasil menggeser Malaysia dari posisi World Halal Destination Award tahun ini. “Dulu Malaysia legenda di situ, sekarang bisa kita kalahkan,” tutur Arief.

    Arief pun memproyeksikan pendapatan devisa sektor pariwisata dalam beberapa tahun ke depan dapat terus merangkak naik, yaitu menembus US$ 40 miliar. “Intinya harus lebih dari minyak dan gas yang prediksinya bakal stagnan pada US$ 30 miliar, bahkan terus turun,” ucapnya. 

    Namun Arief pun menyadari masih banyak hal yang harus diperbaiki untuk dapat mencapai target tersebut, khususnya dari segi promosi dan pengembangan fasilitas wisata.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.