SKANDAL PETRAL: Pertamina Usut Orang Dalam, Siapa Bermain?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Petral. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ilustrasi Petral. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.COJakarta - Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan sedang menelusuri keterlibatan pejabat atau karyawan Pertamina dalam kegiatan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Penelusuran ini menindaklanjuti hasil audit forensik atas anak usaha Pertamina pada bidang perdagangan minyak tersebut. 

    "Ada beberapa anomali proses yang membuat harga (harga beli minyak mentah dan bahan bakar minyak) lebih mahal," kata Dwi di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, kemarin. Dia menyatakan, untuk menelisik anomali pengadaan, Pertamina menjalankan aksi korporasi dan aksi legal.

    BACA: SKANDAL PETRAL: Inilah MR, Mister Untouchable di Era SBY

    Dalam aksi korporasi, menurut Dwi, perseroan menggunakan hasil audit untuk meminimalkan penyelewengan. Salah satu caranya menyelidiki keterlibatan pejabat Pertamina di Petral. Seiring penyelidikan internal, Pertamina dan pemerintah mempelajari adanya kemungkinan menempuh jalur hukum.

    Aksi hukum, Dwi menambahkan, perlu dilakukan karena Pertamina menemukan ada pihak-pihak luar yang berkomunikasi dengan para pejabat Petral dan memainkan pengadaan. "Legal action masih kami analisis. Kalau sudah selesai, akan kami sampaikan kepada penegak hukum," ujarnya.

    BACA: SKANDAL PETRAL: Begini Cara Mafia Akal-akali Tender Minyak

    Skandal Petral menghangat lagi setelah pemerintah mengumumkan hasil audit auditor independen KordaMentha terhadap Petral. Auditor asal Australia itu menemukan adanya anomali dalam pengadaan minyak oleh Petral sepanjang 2012-2014. Dalam periode itu, jaringan mafia minyak diperkirakan mengantongi kontrak US$ 18 miliar atau sekitar Rp 250 triliun. 

    Ketika dilacak, para pemegang kontrak tersebut ternyata berafiliasi ke satu badan usaha. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengungkapkan, pada Selasa lalu, perusahaan itu kerap menggunakan perusahaan perantara dan perusahaan minyak milik negara lain untuk mengeruk keuntungan. Akibatnya, Pertamina tak memperoleh harga terbaik dalam pengadaan minyak.

    BACA: SKANDAL PETRAL: Audit BPK Tergantung Niat Pertamina

    Mantan anggota Komite Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Fahmi Radhy, mengungkapkan, selama proses tender jual-beli minyak dan BBM, orang dalam Petral membocorkan informasi kepada sejumlah orang atau badan usaha ihwal syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Informasi yang diterima lantas diteruskan kepada para peserta tender.

    Kebocoran informasi ini yang membuat peserta tender dan perusahaan minyak dari negara yang bukan penghasil minyak bisa memenangi tender. "Masak, perusahaan sekelas BP (British Petroleum) bisa tidak lolos?" tutur Fahmi. Begitu pemenang tender ditentukan, pihak ketiga inilah yang memasok kebutuhan minyak.

    BACA JUGA
    Terungkap, Dua Wanita Ini Bikin Ivan Gunawan Jatuh Cinta
    REKAMAN KPK:Terkuak OC Kaligis Panik,Minta Kuitansi Disimpan

    Maka, tak mengherankan bila harga minyak yang dibeli Pertamina menjadi jauh lebih mahal. "Mafianya adalah perusahaan yang berkedudukan di Singapura," ucap Fahmi. 

    Menurut ekonom dari Universitas Gadjah Mada itu, Komite Reformasi telah merekomendasikan agar direksi Petral diganti. Indikasi keterlibatan pejabat Pertamina pun menjadi salah satu rekomendasi mereka untuk ditindaklanjuti. Argumentasinya, Pertamina selaku induk usaha Petral berperan dalam menentukan direksi Petral.

    AYU PRIMA SANDI | ADITYA BUDIMAN | EFRI RITONGA

    BERITA MENARIK
    Pria Ini Tinggal di Kandang Domba, Hidup dari Barang Bekas
    Memilukan, Keluarga Ini 7 Tahun Hidup di Kandang Ayam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.