Bali Disarankan Bangun Infrastruktur Jalur Kereta Api

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga kru bandara melewati dua pesawat di landasan Bandara Supadio yang diselimuti kabut asap, di landasan Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalbar, 21 Oktober 2015. Aktivitas penerbangan domestik dan internasional di Bandara Supadio kembali terganggu asap pekat. ANTARA FOTO

    Tiga kru bandara melewati dua pesawat di landasan Bandara Supadio yang diselimuti kabut asap, di landasan Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalbar, 21 Oktober 2015. Aktivitas penerbangan domestik dan internasional di Bandara Supadio kembali terganggu asap pekat. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Bali dinilai sudah mendesak untuk segera mengembangkan sarana transportasi kereta api sebagai alternatif transportasi udara.

    Kadin Bali menilai sudah waktunya bagi daerah ini untuk segera merealisasikan jalur kereta api atau jalan bebas hambatan yang menghubungkan 9 kota dan kabupaten guna mempermudah akses wisatawan yang akan bepergian.

    Menurut Ketua Kadin Bali Anak Agung Alit Wiraputra, kereta api dan jalan bebas hambatan tersebut akan menjadi solusi apabila terjadi bencana letusan gunung sehingga menyebabkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ditutup sementara.

    “Kemarin Raung, dan sekarang Gunung Barujari saja seperti itu dampaknya, belum lagi di Bali ada gunung aktif Gunung Agung. Perlu sekali diantisipasi dari sekarang,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (6 November 2015).

    Alit mengungkapkan infrastruktur jalan darat mendesak untuk diperbaiki agar ketika terjadi penutupan bandara, wisatawan tidak mengalami kerugian waktu.

    Dia menjelaskan meskipun dalam kasus penutupan bandara, wisatawan memperpanjang masa tinggal, tetapi manfaatnya tidak sebesar ketika wisatawan dari luar yang sudah memesan tiket datang.

    Selain itu, kemudahan akses infrastruktur akan membantu mempercepat transportasi wisatawan yang akan menuju luar daerah.

    Dengan begitu, wisatawan tidak perlu was-was batal ke Bali apabila bandara ditutup karena letusan gunung berapi.

    Antisipasi seperti itu penting segera direalisasikan agar perekonomian Bali tidak terdampak akibat bencana.

    Selama ini, penopang utama ekonomi daerah ini adalah pariwisata, sehingga sangat penting untuk memikirkan keberadaan akses bagi wisatawan.

    “Wisatawan harus dilayani, kalau tidak akan stagnan. Kalau sudah stagnan yang rugi orang Bali sendiri,” tuturnya.

    Saat ini, sejatinya sudah ada rencana membangun jalur bebas hambatan yang menghubungkan Bali Selatan dengan Barat dan Utara, serta jalur kereta api.

    Namun, baru jalur bebas hambatan yang menemukan titik terang, setelah PT Waskita Karya menyatakan minatnya untuk berinvestasi.

    Sementara sampai saat ini Bali belum memiliki rencana induk perkeretaapian, kendati wacanan pembangunanya sudah mengemuka sejak dua tahun lalu.

    Bandara I Gusti Ngurah Rai sejak Selasa (4 November 2015) malam, ditutup sebagai dampak abu vulkanik letusan Gunung Barujari, anak Gunung Rinjani.

    Semula penutupan direncanakan hingga Jumat (6 November 2015) pagi, tetapi pada Kamis (5 November 2015) sore akhirnya dibuka oleh pihak otoritas.

    Penutupan ini menyebabkan sekitar 692 penerbangan domestik dan internasional dibatalkan dan ribuan calon penumpang batal terbang.

    Penutupan ini adalah yang kedua kalinya, setelah pada Juli lalu bandara terpadat ke dua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta ini ditutup akibat abu vulkanik Gunung Raung di perbatasan Jember dan Banyuwangi.

    Penutupan tersebut sempat membuat jumlah wisman ke Bali merosot.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).