BPS: Kuartal III, Ekspor-Impor Indonesia Turun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memeriksa peti kemas berisi rumput laut saat menghadiri pencanangan Gerakan Peningkatan Ekspor 3 Kali Lipat dan Sulawesi Berstandar SNI di Pelabuhan Indonesia 4, Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo memeriksa peti kemas berisi rumput laut saat menghadiri pencanangan Gerakan Peningkatan Ekspor 3 Kali Lipat dan Sulawesi Berstandar SNI di Pelabuhan Indonesia 4, Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepanjang kuartal ketiga 2015, kinerja ekspor dan impor Indonesia merosot. Menurut Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekspor Indonesia minus 0,69 persen dan impor minus 6,11 persen pada kuartal III 2015 dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Suramnya kondisi ekonomi global dituding jadi penyebab kemerosotan ini. "Terjadi perlambatan ekonomi di negara mitra dagang, seperti Amerika Serikat, Cina, dan Singapura," kata Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS Kecuk Suharyanto, Kamis, 5 November 2015. Pelambatan ekonomi itu tak urung menyebabkan turunnya permintaan hingga secara tak langsung mempengaruhi harga berbagai komoditas ekspor unggulan Indonesia.

    Kecuk menyebut ekspor barang minus 1,82 persen. Sedangkan ekspor jasa masih tumbuh 4,7 persen akibat peningkatan jumlah wisatawan mancanegara.

    Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir, memang terjadi penurunan ekspor. Namun ia optimistis kondisi itu akan segera membaik. "Saya lumayan optimistis bahwa ekspor bisa minimum stabil. Stabil dulu, baru bertumbuh," ucap Thomas di Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis siang.

    Secara kumulatif, Thomas memprediksi nilai ekspor tahun ini bakal turun 14 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan nilai impor bakal turun 17 persen.

    Jika melihat pencapaian ekspor tahun lalu, yakni US$ 176,29 miliar, menurut perhitungan pria yang akrab disapa Tom itu, tahun ini nilai ekspor hanya akan mencapai US$ 151,61 miliar. Sedangkan jika nilai impornya turun 17 persen dibanding angka tahun lalu, yakni US$ 178,18, tahun ini akan bernilai US$ 147,89 miliar.

    Tahun depan, ia memprediksi perdagangan masih akan stagnan. "Kalau umpamanya tahun depan itu bisa datar, tidak naik dan tidak turun, itu sudah suatu perkembangan yang menggembirakan. Dari situ kemudian kita bangun lagi pertumbuhan," tuturnya.

    PINGIT ARIA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.