EKSKLUSIF, Ketika Go-Jek Perang Bubat Lawan Kompetitor (3)  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Project Manager Go-Mart Nadia Tenggara dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim di Jakarta, Kamis (22/10/2015) (ANTARA News/Nanien Yuniar)

    Project Manager Go-Mart Nadia Tenggara dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim di Jakarta, Kamis (22/10/2015) (ANTARA News/Nanien Yuniar)

    TEMPO.COJakarta - Go-Jek lagi naik daun. Pengelola bisnis transportasi berbasis aplikasi ini sedang menjadi buah bibir, bahkan fenomena baru di Kota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Beroperasi sejak 2011, kini Go-Jek paling moncer dibandingkan para kompetitor. 

    Namun persoalan selalu muncul dalam bisnis. Selasa, 3 November 2015, sejumlah pengendara Go-Jek meluapkan protes gara-gara aplikasi yang sering ngadat sehingga mengurangi pendapatan mereka. Rencana penurunan tarif dari Rp 4.000 per kilometer menjadi Rp 3.000 semakin meletupkan keresahan para driver

    CEO Go-Jek Nadiem Makarim menjelaskan banyak hal kepada Tempo tentang pandangan serta strategi bisnisnya. Laporan disajikan dalam tiga bagian. 


    Bos Go-Jek Buka Strategi Melawan Kompetitor Asal Malaysia

    Go-Jek bersumpah tak akan menyerah dalam persaingan melawan kompetitor dari negeri jiran. Segala upaya dan strategi bisnis akan digeber untuk meraup pasar Indonesia. 

    “Saya juga tentu enggak akan terima kalau perusahaan Malaysia yang akan mengambil alih pasar ojek di Indonesia,” kata CEO Go-Jek Nadiem Makarim kepada Tempo pada pertengahan Oktober lalu di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. “Saya, sih, mending berdarah-darah lebih lama, tapi kami maintain.”

    Nadiem Makarim mengelak ketika disebut memanfaatkan isu nasionalisme untuk memenangi persaingan melawan GrabBike. Menurut dia, berdasarkan masukan yang diterima Go-Jek, mayoritas pelanggan memang memilih Go-Jek karena alasan nasionalisme tadi. 

    SIMAK:
    EKSKLUSIF, Bos Go-Jek Nadiem Makarim Bicara Soal Keamanan (2)
    EKSKLUSIF, Bos Go-Jek: Tarif Murah Sampai... (Bagian 1)

    Dia mengakui aplikasi Go-Jek memang tak sebagus milik kompetitor itu. Namun, “Aplikasi kami disukai karena lebih gampang. Lagi pula pada aplikasi kami semuanya ada. Enggak cuma transaksi transportasi.”

    Namun, Nadiem Makarim menjelaskan, sebenarnya kepemilikan Go-Jek di tangan orang Indonesia atau asing bukan isu utama. Yang paling penting adalah berapa banyak orang yang terbantu dengan teknologi itu. “Peduli apa soal siapa yang dikayakan? Asalkan rakyat Indonesia makmur, why not?” ucap Nadiem Makarim, sang CEO Go-Jek.

    TIM TEMPO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.