Gangga Sukta Sulap Limbah Jadi Kerajinan Indah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan pembuatan patung jerapah, yang terbuat dari limbah  bambu. Kerajinan ini dijual mulai harga 50 ribu hingga jutaan rupiah. Malang, 20 April 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Pekerja menyelesaikan pembuatan patung jerapah, yang terbuat dari limbah bambu. Kerajinan ini dijual mulai harga 50 ribu hingga jutaan rupiah. Malang, 20 April 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    SWA.CO.ID, Jakarta - Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar limbah rumah tangga? Bau, jijik, kotor, dan lainnya. Tapi, tahukah Anda kalau limbah rumah tangga bisa disulap menjadi kerajinan yang indah dan menarik?

    CV Gangga Sukta merupakan perusahaan yang mengekspor kerajinan yang terbuat dari limbah rumah tangga, seperti kulit telur, kayu bekas, dan akar pohon.

    Dari bahan-bahan itu dapat dibuat aneka kerajinan cantik, seperti jerapah, gajah, burung hantu, topeng, bebek, dan lain-lain. CV Gangga Sukta pertama kali mendapatkan pembeli ketika membuka toko di Pasar Sukowati, Bali.

    Saat itu, mereka mengekspor dengan menggunakan kargo lain. Baru pada tahun 2000 CV Gangga Sukta mulai mengekspor sendiri dengan negara tujuan Kanada. Kini, mereka memiliki 2 toko yang ada di Jalan Andong dan Pasar Sukowati.

    “Setiap bulan, kami dapat memproduksi 3-4 kontainer ukuran 40ft,” kata pemilik CV Gangga Sukta, Putu Gede Widnyana, di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta.

    Untuk meningkatkan penjualan, perseroan menjamin produknya berkualitas serta menawarkan beragam desain menarik. Setiap bulan, dua desainer internal mengeluarkan karya baru nan unik agar pembeli tak lekas bosan. “Sebulan ada 10 desain baru. Tapi, belum tentu juga buyer suka (semuanya),” katanya.

    Pasar ekspor CV Gangga Sukta saat ini adalah Amerika, Kanada, Jerman, Belanda, dan Malaysia. Amerika merupakan pasar terbesar. Setiap tahun, lanjut dia, pasar ekspor ini terus naik sekitar 70 persen. “Detailnya saya tidak ada datanya, tapi sudah mencapai miliaran dolar AS,” kata dia.

    Putu Gede menyebut dua kesulitan terbesar yang dihadapi saat ini, yakni kebutuhan bahan baku yang tinggi serta desain yang sering dijiplak pemain lain. Pasalnya, perseroan memasarkan produknya lewat internet.

    “Sehingga, banyak pengrajin lain curang. Mereka meniru desain yang kami buat. Bahkan ada yang sama persis. Sampai sekarang saya belum bisa menemukan cara menanggulanginya,” ujar dia.

    Perusahaan juga harus menghadapi ketatnya persaingan harga. Beruntung, Putu memiliki 30-an pengrajin dan pemasok bahan baku sehingga bisa menghemat biaya.

    Kadang-kadang ia menggunakan jasa tenaga lepas saat pesanan membludak. Biasanya, mereka hanya bertugas di tahap pekerjaan akhir (finishing) untuk menjaga kualitas produk yang menyasar segmen kelas menengah.

    Putu Gede berharap pemerintah membantu memasarkan produk, misalnya dengan dilibatkan dalam pameran di luar negeri. "Kami sering mengikuti pameran di Jerman,” ujar dia.

    swa.co.id


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.