Ribuan Pengusaha Mebel Ancam Hengkang ke Vietnam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengecat kayu bahan dasar pembuatan mebel di Manggarai, Jakarta, 23 Juni 2015. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, realisasi pertumbuhan produksi industri manufaktur kelas menengah besar sektor furnitur dan kerajinan hanya bertumbuh 0,88% pada kuartal I/2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja mengecat kayu bahan dasar pembuatan mebel di Manggarai, Jakarta, 23 Juni 2015. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, realisasi pertumbuhan produksi industri manufaktur kelas menengah besar sektor furnitur dan kerajinan hanya bertumbuh 0,88% pada kuartal I/2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha mebel dan kerajinan mengeluhkan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan pertumbuhan industri sektor hilir kayu. Pengusaha mengancam akan mengalihkan bisnisnya ke negara tetangga karena birokrasi yang berbelit-belit dan tidak ada kepastian hukum.

    "Ribuan rekan kami di Sidoarjo sudah bersiap untuk hengkang tahun depan," kata  Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur, Sabtu, 19 September.

    AMKRI mengeluhkan birokrasi yang berbelit-belit terutama terutama setelah pemerintah mewacanakan kewajiban kepemilikan Sertifikat Verifikasi Legalitas Kayu sebagai syarat ekspor tahun depan. Menurut Sobur, kebijakan ini salah sasaran karena seharusnya diterapkan ke industri hulu.

    Sobur menambahkan, perolehan dokumen tersebut memakan waktu dan berbiaya mahal. Pengurusan sertifikat,  bisa mencapai  Rp 50 juta sehingga memberatkan pengusaha mebel skala kecil dan menengah.

     AMKRI kata Sobur mengusulkan sistem pengupahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Sistem ini membuat isu kenaikan upah buruh menjadi komoditas politik yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi.

    Asosiasi menilai hambatan ini penyebab  melemahnya daya saing produk lokal di pasar global. Saat ini, Indonesia hanya menguasai nilai pasar mebel dan kerajinan dunia sebesar US$ 2,8 miliar. Sementara, saat ini Vietnam jauh lebih unggul dengan penguasaan US$ 7 miliar. Cina menjadi juara karena perolehan nilai ekspor hingga US$ 50 miliar.

    Sobur menilai Indonesia berpotensi meningkatkan ekspor hingga US$ 5 miliar pada lima tahun mendatang jika mau memperhatikan keluhan pengusaha.  "Kami yakin bisa mencapai pertumbuhan hingga 15 persen per tahun."

    Sobur mengklaim sektor  ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 2,5 juta orang jika pertumbuhannya moncer. Saat ini, terdapat 2000 pengusaha mebel besar yang berfokus pada pasar luar negeri. "Jangan lupa, dengan ekspor kami juga membantu negara memperoleh devisa," ucapnya.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara