Panas Dingin Fed Rate, BI: Kepastian Ada di Tahun 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono dan Pjs Gubernur Senior Darmin Nasution saat memberikan keterangan di Gedung BI, Jakarta, Rabu (6/1).BI mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 6,5%, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi.TEMPO/Dinul M

    Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono dan Pjs Gubernur Senior Darmin Nasution saat memberikan keterangan di Gedung BI, Jakarta, Rabu (6/1).BI mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 6,5%, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi.TEMPO/Dinul M

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonomi dunia, termasuk Indonesia, panas dingin menanti kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi September ini tetapi, akhirnya ditunda akhir tahun. Namun, Bank Indonesia memprediksi kenaikan Fed Rate baru akan dilakukan pada 2016.

    Pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau The Federal Open Market Committee (FOMC), memutuskan untuk menahan Fed Fund Rate (FFR) di level 0,25%.

    "Tanggal 17 kemarin The Fed itu sudah sidang dan mereka menyampaikan hasilnya adalah tidak dilakukan perubahan FFR," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung BI, Jumat (18 September 2015).

    Sebelum pengumuman hasil meeting FOMC tersebut, lanjutnya, banyak pihak yang berharap The Fed dapat segera menaikkan suku bunganya, karena selama ini di beberapa negara sudah mengantisipasi kenaikan tersebut lebih awal.

    Menurutnya, dengan The Fed menaikkan suku bunga, maka tidak ada lagi ketidakpastian yang terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia yang sudah setahun terakhir dibayangi oleh ketidakpastian tersebut.

    "Ternyata sidangnya seperti yang juga mereka jelaskan bahwa itu kan data dependen. Berdasarkan data yang ada mereka melihat tidak dinaikkan dan statementnya malah disimpulkan sebagai statement kecenderungan untuk menaikkan bunga tidak tinggi," ucap Agus.

    Keputusan FOMC itu juga mengatakan bahwa perkembangan terakhir ekonomi AS cukup terpengaruh perkembangan dunia, termasuk inflasi yang rendah berdampak pada AS.Agus menduga kenaikan FFR ini akan terjadi pada 2016.

    "Jadi ketika mereka memutuskan tidak ada penyesuaian FFR mungkin orang bisa membaca kemungkinan bulan depan ada FOMC meeting kemungkinan enggak besar. Bulan Desember diperkirakan belum ada kenaikan dan bisa-bisa sampai tahun 2016," tutur Agus.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.