Suryamin: Inflasi September 2015 Diprediksi Akan Terjaga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Inflasi September 2015 diperkirakan akan terjaga seiring perkembangan komoditas dominan yang menunjukkan penurunan harga.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan berdasarkan pantuan pihaknya telah terjadi penurunan harga pada 10 komoditas dominan sampai dengan minggu ketiga September 2015.

    “Memang masih ada 12 hari ke depan dan bisa berubah, namun sampai dengan minggu ketiga dari 22 komoditas dominan yang kami pantau ada 10 komoditas yang harganya turun,” katanya di sela peresmian gedung baru BPS Sumsel di Palembang, Jumat (18 Septmber 2015).

    Dia mengatakan 10 komoditas itu meliputi, a.l beras, cabai merah, daging ayam ras, bawang merah dan minyak goreng. Suryamin melanjutkan besaran indeks harga konsumen (IHK) gabungan pada bulan ini diproyeksi tidak begitu berbeda dengan inflasi bulan yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 0,27%.

    Menurut dia, meskipun terdapat komoditas yang mengalami kenaikan harga namun terpantau tidak signifikan.

    “Ada yang naik tapi tidak begitu tinggi, paling 1% --2% kenaikannya.”

    Suryamin mengatakan penurunan harga terutama untuk bahan makanan itu disebabkan terjaganya suplai komoditas.

    Dia menambahkan tersedianya suplai tersebut juga dipengaruhi kondisi cuaca yang mendukung, seperti bawang merah dan cabai merah.

    “Seperti cabai merah kalau hujan kan banyak busuk sekarang bisa tumbuh bagus karena daerah kering namun bisa disiram,” katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.