Ekonomi Amerika Membaik, Permintaan Mebel Yogya Melonjak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ajang Pameran International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2013 pun menjadi ajang para produsen furnitur dalam negeri memamerkan karyanya kepada pasar internasional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ajang Pameran International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2013 pun menjadi ajang para produsen furnitur dalam negeri memamerkan karyanya kepada pasar internasional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Membaiknya perekonomian Amerika saat ini ternyata ikut dirasakan oleh para perajin mebel di Yogyakarta. Hingga September, pesanan mebel dari Amerika terus bertambah. “Amerika Serikat pasar yang bagus untuk mebel,” kata Sekretaris Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Heru Prasetyo, Kamis, 17 September 2015.

    Heru mengatakan ekspor mebel naik 5-10 persen dengan omzet rata-rata Rp 250-300 juta per kontainer. Sebanyak 90 persen dari 200 perajin mebel yang tergabung dalam Asosiasi, kata Heru, menjual produknya ke pasar ekspor. Kondisi itu menguntungkan para perajin sebab saat ini pasar dalam negeri justru sedang turun 10 hingga 15 persen seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat.

    Kondisi perekonomian Amerika yang kian membaik membuat para pembeli dari negara itu terus menambah pesanan mebel maupun kerajinan dari Yogyakarta. Heru, yang juga mengekspor mebel ke Amerika, mengungkapkan permintaan dari Negeri Abang Sam itu naik 20 persen di tempatnya berproduksi. Saat ini dia sedang mengerjakan pesanan dari Amerika untuk dua kontainer furnitur.

    Data menunjukkan perekonomian Amerika saat ini dalam tren membaik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi naik dari 2,3 persen menjadi 3,6 persen. Demikian pula dengan angka pengangguran pada tahun yang sebesar 5,1 persen yang merupakan terendah selama tujuh tahun terakhir.

    Heru berharap pemerintah menangkap peluang ini dengan menggenjot nilai tambah ekspor mebel. Heru membandingkan dengan pemerintah Cina dan Malaysia yang sangat agresif memperkuat pasar ekspor. Mereka menyokong dengan alat atau teknologi untuk meningkatkan daya saing produk. Heru mencontohkan amplas atau alat untuk menghaluskan kayu furnitur di Cina. Di sana amplas dibuat dengan mesin yang canggih. “Nilai ekspor mereka tinggi dan berdaya saing,” kata dia.

    Meskipun nilai ekspor dari Yogyakarta meningkat, Kepala Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta Bambang Kristianto mengatakan hal itu hanya sedikit menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah.

    Data BPS DIY menunjukkan pada Juli 2015 nilai ekspor sebesar US$ 25.777.422, atau naik 4,09 persen dibanding Juni dengan nilai US$ 24.764.869. Bila dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, nilai ekspor naik 1,99 persen. Tiga negara utama tujuan ekspor adalah Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman. Masing-masing 41,19 persen, 12,37 persen, dan 9,18 persen. “Nilainya kecil bila dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Tengah,” kata Bambang.

    Pakaian jadi bukan rajutan, barang-barang rajutan, dan barang-barang dari kulit merupakan tiga kelompok komoditas utama ekspor dengan nilai tertinggi pada Juli. Mahalnya biaya transportasi pengiriman barang membuat nilai ekspor menjadi tidak maksimal.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.