Masuk Tiga Besar, Impor Biji Kakao Justru Melonjak, Ada Apa?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buah kakao yang baru dupanen di Sulawesi Selatan, 8 Mei 2015. Data Badan Pusat Statistik Sulsel menunjukkan, ekspor biji kakao pada Maret 2015 turun 37,8 persen dibandingkan Maret 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

    Buah kakao yang baru dupanen di Sulawesi Selatan, 8 Mei 2015. Data Badan Pusat Statistik Sulsel menunjukkan, ekspor biji kakao pada Maret 2015 turun 37,8 persen dibandingkan Maret 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

    TEMPO.CO , Jakarta: Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta pelaku usaha untuk mengurangi impor kakao. Sebab, Indonesia berada di peringkat ketiga produsen biji kakao terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, namun justru mengalami peningkatan impor biji kakao.

    Merujuk data International Cocoa Organization (ICCO), sepanjang 2014 produksi biji kakao Indonesia mencapai 370 ribu ton. Sementara impor biji kakao terus bertambah. Jika pada tahun 2013 volume impor hanya 30,7 ribu ton maka pada 2014 membengkak tiga kali lipat menjadi 109,4 ribu ton.

    Di sisi lain, ekspor kakao olahan terus melaju setiap tahun. Pada 2013, kakao olahan Indonesia yang dikapalkan ke luar negeri sebanyak 196,3 ribu ton. Kemudian  bertambah menjadi 242,2 ribu ton pada 2014 atau meningkat 23,3 persen.

    “Dari tiga data itu sangat jelas artinya, yaitu kita memang produsen kakao kelas dunia tapi juga masih kekurangan kakao karena industri olahan kakao, yang lebih dikenal sebagai produk cokelat, sangat bergairah,” kata Saleh dalam keterangan tertulis, Kamis malam, 17 September 2015.

    Menurut Saleh, diperlukan kombinasi peningkatan produksi biji kakao dan pengembangan produk olahan kakao. Jika dua strategi itu berjalan optimal, secara bertahap kurangnya bahan baku dan tingginya impor kakao bisa diatasi. "Bahkan kita balik hingga bisa menjadi pengekspor produk olahan kakao berupa cokelat.”

    Untuk mengamankan pasokan bahan baku kakao, salah satu kebijakan pemerintah adalah pemberlakuan bea keluar biji kakao sejak 2010. Hasilnya ekspor biji kakao turun dari 188,4 ribu ton pada 2013 lalu menjadi hanya sepertiganya atau 63,3 ribu ton pada tahun berikutnya. Pada tahun 2014, devisa yang disumbangkan dari komoditi kakao mencapai US$ 1,24 miliar, dan memiliki potensi untuk terus ditingkatkan.

    Saleh mengatakan masih ada ruang yang besar bagi pengembangan industri ini. Apalagi konsumsi cokelat dalam negeri masih minim. Menurut dia, salah satu upaya untuk peningkatan konsumsi cokelat adalah melalui sosialisasi maupun gerakan seperti Peringatan Hari Kakao Indonesia yang berlangsung dari 17-20 September 2015.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.