Menkes Minta Litbangkes Penelitian Jamu Terus Dikembangkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan, Nila Djuwita Moeloek, melakukan sidak alat pendeteksi virus Ebola di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 3 November 2014. Sidak tersebut dilakukan untuk memperketat masuknya virus ebola ke Indonesia melalui bandara dan pelabuhan. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Menteri Kesehatan, Nila Djuwita Moeloek, melakukan sidak alat pendeteksi virus Ebola di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 3 November 2014. Sidak tersebut dilakukan untuk memperketat masuknya virus ebola ke Indonesia melalui bandara dan pelabuhan. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelek meminta para peneliti Litbangkes Kementerian Kesehatan  untuk terus berusaha mengembangkan penelitian dari bahan baku tanaman obat (jamu).

    Salah satu contohnya adalah pengembangan bahan baku obat malaria Artemisinin dari tanaman Artemisia annua yang didahului dengan penelitian Riset Tanaman Obat dan Jamu.

    Untuk sekitar 2 juta kasus Malaria di Indonesia, diperlukan obat Artemisinin sebanyak 900 kg yang dihasilkan dari 450 ton simplisia kering dan diperoleh dari 100 hektar tanaman Artemisia annua.

    Sejak 2012, Indonesia telah memulai pendekatan penelitian dan pengembangan produk dalam bentuk konsorsium riset yang melibatkan akademisi, institusi penelitian milik pemerintah, dan industri untuk mempercepat mendapatkan hasil dengan efisien.

    Kolaborasi antara para peneliti dan pengguna industri, pemegang program, dan pelaku pelayanan kesehatan sangat penting.

    "Agar hasil penelitian berdaya guna dan berhasil guna, kolaborasi antara penghasil riset dan pengguna riset sangat krusial. Kolaborasi ini bisa dilakukan mulai tahap penetapan agenda riset dan penyusunan protokol penelitian," ujar Nila, saat pembukaan Simposium Internasional ke-2 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bertema “Basic Research and Innovation Breakthrough Into Product” di Jakarta (15 September 2015).

    Simposium Internasional ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini seputar penelitian dan pembangunan kesehatan yang terkait dengan deteksi, pencegahan, dan pengobatan.

    Simposium ini mengangkat tujuh tema: penelitian dan pengembangan vaksin (HIV, Hepatitis B, TB dan lain-lain), penemuan obat (anti malaria, pengobatan alternatif, saintifikasi jamu), obat biosimiliar (sel punca, eritropoietin), peralatan medis (non invasive diagnostic).

    Dengan kolaborasi antara penghasil dan pengguna, menurut Nila, diharapkan hasil-hasil penelitian akan lebih banyak dapat dimanfaatkan.

    "Kemenkes bersama seluruh lintas sektor terkait,  melibatkan akademisi, pemerintah baik, Pusat maupun Daerah, industri dan seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian bangsa”, ujarnya.

    Guna mendukung riset dan pengembangan kesehatan di Indonesia, Kemenkes RI akan menaikkan anggaran dua kali lipat seiring dengan kenaikan anggaran pos kesehatan dalam APBN yang naik lima persen.

    Selain itu, acara simposium  ini juga dapat dimanfaatkan sebagai forum komunikasi antara produsen riset dan konsumen riset.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.