2050, 6 Juta Jiwa Lebih Mati Karena Polusi Udara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lalu lintas kendaraan terganggu akibat pencemaran udara yang tinggi di Beijing, Cina, 15 Januari 2015. Beijing mengeluarkan peringatan asap pertama pada 2015. Udara stagnan dan lembab telah memperburuk polusi udara yang menyebabkan kabut asap tebal. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Lalu lintas kendaraan terganggu akibat pencemaran udara yang tinggi di Beijing, Cina, 15 Januari 2015. Beijing mengeluarkan peringatan asap pertama pada 2015. Udara stagnan dan lembab telah memperburuk polusi udara yang menyebabkan kabut asap tebal. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Polusi udara diperkirakan akan membunuh lebih dari 6,5 juta jiwa di seluruh dunia pada 2050, dua kali lebih banyak dari jumlah kematian akibat polusi udara pada saat ini.

    Dikutip dari DailyMail, Kamis (17 September 2015), sebuah penelitian mengungkapkan secara global, pencemaran udara menyebabkan sekitar 3,3 juta kematian prematur setiap tahunnya, terutama di Asia.

    Kematian tersebut disebabkan oleh dua polutan yakni partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5s dan gas nitrogen dioksida beracun, yang dihasilkan oleh mobil diesel, truk, dan bus.

    Polutan memengaruhi kapasitas dan perkembangan paru-paru seseorang, juga terkait dengan kanker paru-paru hingga penyakit jantung.

    Profesor Jos Lelieveld dari Max Planck Institute for Chemistry membuat model untuk melihat hubungan polusi udara global dengan data kependudukan dan statistik kesehatan. Dari model tersebut diperkirakan kontribusi relatif dari sumber yang berbeda, terutama partikel halus yang menyebabkan kematian dini.

    Hasil penelitian menunjukkan emisi energi dari hunian, seperti memasak dan pemanasan, yang lazim terjadi di China dan India memiliki dampak terbesar.

    Sementara itu, di sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan beberapa negara lain, emisi dari lalu lintas dan pembangkit listrik ditemukan sebagai penyebab terbesar. Di Eropa, emisi dari pertanian merupakan penyumbang terbesar partikel halus beracun.

    Profesor Michael Jerrett dari California University mengatakan hasil studi tersebut sangat mengejutkan dan harus menjadi wake-up call bagi para pembuat kebijakan.

    Dia menuturkan hasil penelitian itu juga memperlihatkan sekitar satu juta jiwa dapat diselamatkan setiap tahunnya dengan mengurangi paparan polusi pada lingkungan.

    "Lebih dari 3,54 juta jiwa pertahun bisa diselamatkan dengan mengurangi paparan polusi dalam ruangan, khusunya dari perubahan penggunaan energi di bangunan komersial atau hunian," ucapnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.