Ali Wardhana, Pemimpin yang Tak Suka Tergopoh-gopoh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ali Wardhana, Jakarta, 19 Juli 2007. TEMPO/ Muradi

    Ali Wardhana, Jakarta, 19 Juli 2007. TEMPO/ Muradi

    TEMPO.COJakarta - Nama Ali Wardhana, pria kelahiran Solo, 6 Mei 1928, sepertinya menjadi jaminan bagi para bankir untuk menjalankan usaha. Ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan 1968-1983, lulusan University of California di Berkeley pada 1961 ini dianggap dapat menenangkan dunia perbankan. 

    Direktur PT Panin Bank waktu itu, Prijatna Atmadja, berpendapat, "Orang lama biasanya tak akan membuat kejutan," katanya kepada Tempo.

    Bukan hanya tenang, bekas guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini dinilai selalu tampil dengan gaya yang tak tergopoh-gopoh. Ali juga dikenal sebagai pemimpin yang tidak mudah meluluskan permintaan untuk membuat proyek yang menelan biaya besar.

    Ali sendiri mempunyai jawaban atas tudingan bahwa dia itu pelit. "Yang membuat saya cemas bukan keadaan ekonomi yang sulit, tapi masih kurangnya pengertian dari sementara orang yang menuding saya pelit, tak suka membela kepentingan dalam negeri," ujar Ali kepada Tempo pada 1988.

    Setelah lengser dari kabinet pada 1988, bekas menteri yang pernah juara bowling di antara klub-klub bank itu memperingatkan kondisi ekonomi Indonesia. Ia sudah mewanti-wanti ihwal harga minyak yang semakin jatuh sejak 1983. "Orang suka lupa, setelah harga minyak jatuh pada tahun 1983, keadaan keuangan kita sebenarnya sudah payah," tutur Ali. 

    Sejak Maret 1983, harga minyak sudah jatuh menjadi US$ 29,53 per barel. 

    Ihwal utang, Ali Wardhana juga mengingatkan para menteri dan pelaku usaha. Menurut Ali, utang luar negeri pemerintah RI, yang waktu itu mencapai sekitar US$ 40 miliar, sungguh bukan jumlah yang main-main. Besarnya utang itu sebagian karena naiknya gengsi mata uang yen terhadap dolar AS.

    Karier terakhir kakek lima cucu ini adalah menjadi penasihat ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan yang diemban pada periode pertama pemerintahan SBY itu membawanya kembali berkantor di Kementerian Keuangan.

    Jabatan 
    Menteri Keuangan 1968-1983
    Menteri Koordinator Ekonomi, Industri, dan Pengawasan Pembangunan 1983-1988

    Pendidikan 
    S-1 Universitas Indonesia 1958
    S-2 University of California di Berkeley 1961
    S-3 University of California di Berkeley 1962

    EVAN | PDAT (Sumber Diolah Tempo)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.