2016 Anggaran Pembangunan Rusun Dipangkas, Jadi 15Ribu Unit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mendirikan tempat tinggal darurat di antara puing rumah di kawasan Jalan Karawang dan Jalan Jakarta yang sudah dibongkar, Bandung, 6 Agustus 2015. Sekitar 50 KK atau lebih dari 150 jiwa masih bertahan di tenda darurat karena menolak relokasi ke Rusunawa Rancacili.  TEMPO/Prima Mulia

    Warga mendirikan tempat tinggal darurat di antara puing rumah di kawasan Jalan Karawang dan Jalan Jakarta yang sudah dibongkar, Bandung, 6 Agustus 2015. Sekitar 50 KK atau lebih dari 150 jiwa masih bertahan di tenda darurat karena menolak relokasi ke Rusunawa Rancacili. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan anggaran pembangunan rumah susun untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tahun depan akan dipangkas.

    Dirjen Pengadaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin mengatakan anggaran tahun depan yang tersedia untuk subsidi pembangunan rusun hanya cukup untuk 15.000 unit.

    "Tahun ini, rusun itu 20.000, tahun depan 15.000," katanya seusai Rapat Kerja Kementerian PUPR dengan Komisi V DPR, Senin (14 September 2015).

    Secara umum, Syarif menyebut total anggaran untuk pengadaan hunian bagi kalangan MBR mencapai Rp7,69 triliun atau lebih rendah dari anggaran tahun ini sebesar Rp8,1 triliun.

    Dia mengatakan kebutuhan anggaran pemerintah untuk pengadaan hunian mencapai Rp8,7 triliun. Namun, pagu yang disepakati dengan Komisi V DPR sebesar Rp7,69 triliun.

    Dari jumlah rusun yang akan dibangun 15.000 unit pada 2016, sebanyak 6.300 unit akan dibangun di Jakarta. Jumlah tersebut terbagi atas 4.300 unit di Pasar Rumput dan sisanya di Pasar Minggu.

    Di dua lokasi tersebut, rusun yang akan dibangun terdiri dari dua menara dengan ketinggian 25 lantai hingga 27 lantai.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.