BI: El Nino Menjadi Penyebab Utama Inflasi Jawa Tengah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penggembala tengah mengembala ternaknya di areal sawah yang gagal panen akibat kemarau di daerah Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/9). TEMPO/Tony Hartawan

    Penggembala tengah mengembala ternaknya di areal sawah yang gagal panen akibat kemarau di daerah Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/9). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Semarang - Inflasi tinggi di bulan Agustus di Jawa Tengah tahun ini disebabkan oleh efek El Nino atau musim kemarau kepanjangan. Catatan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah menunjukkan masuknya musim tanam dan kemarau panjang akibat El Nino, menyebabkan beberapa komoditas pertanian masih menyumbang inflasi tinggi.

    “Komoditas-komoditas tersebut antara lain beras menyumbang inflasi 0,07 persen per bulan dan cabai rawit 0,06 persen,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir, Senin 14 September 2015.

    Menurut Iskandar, kenaikan harga beras disebabkan oleh mulai berkurangnya pasokan beras dari sejumlah sentra penghasil seperti Demak dan Kendal. Sementara itu, harga cabai naik oleh berkurangnya stok akibat kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah.

    “Seiring dengan masuknya musim tanam dan kemarau panjang akibat El Nino, beberapa komoditas pertanian masih menyumbang inflasi tinggi,” kata Iskandar menjelaskan.

    Iskandar memperkirakan pada bulan September 2015, tekanan harga di Jawa Tengah diperkirakan terus mengalami peningkatan, terutama berasal dari komoditas-komoditas volatile foodsyang terkait dengan musim kemarau dan ekpektasi masyarakat menjelang Idul Adha.

    Komoditas-komoditas tersebut antara lain beras, bumbu-bumbuan, dan daging sapi. “Sementara itu, terdapat pula risiko eksternal yang berasal dari apreasiasi Dolar sehingga dapat berdampak pada pembentukan harga komoditas administered prices,” kata Iskandar menjelaskan.

    Harga beras diprediksi akan mengalami peningkatan, terutama jenis medium yang banyak dikonsumsi masyarakat. Peningkatan harga beras diprediksi akan terjadi hingga akhir tahun 2015.

    Sementara daging sapi diprediksi akan mengalami peningkatan harga menjelang hari raya Idul Adha dalam level yang terbatas. “Hal tersebut dikarenakan pedagang mengantisipasi kenaikan permintaan dengan menambah jumlah pasokan,” katanya.

    Dengan berbagai risiko tersebut, Bank Indonesia menyatakan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi dilakukan melalui penjagaan pasokan untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan makanan ditengah musim kemarau panjang.

    Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jateng, Prasetyo Budie Yuwono menyatakan lembaganya sedang mengantisipasi El Nino berat dengan cara membuka delapan waduk besar yang ada di Jateng pada bulan Oktober mendatang. “Kami akan membuka waduk untuk pengairan musim tanam pada bulan Oktober, itu sesuai pola rencana operasi,” kata Prasetyo.

    Ia memperkirakan pembukaan waduk pada bulan Oktober itu akan membantu petani pada musim tanam pertama. Sedangkan untuk lahan tadah hujan, disarankan pandai-pandai membaca pranotomongso. “Kalau sudah turun hujan pada awal oktober nanti silahkan menanam, tapi kalau belum jangan. Karena itu bisa jadi pengaruh El Nino berat,” katanya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.