Petani Buleleng Raup Untung Panen Kol Rp 3 Juta Sekali Tanam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani mengangkut sayuran kubis hasil panen untuk diekspor ke Taiwan di desa Junggo, Jawa Timur, (16/11). Kualitas hasil panen kubis yang membaik membuat harganya naik dari Rp. 1000 menjadi 1.700 rupiah perkilogram. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Seorang petani mengangkut sayuran kubis hasil panen untuk diekspor ke Taiwan di desa Junggo, Jawa Timur, (16/11). Kualitas hasil panen kubis yang membaik membuat harganya naik dari Rp. 1000 menjadi 1.700 rupiah perkilogram. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan petani Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng, Bali, membudidayakan tanaman kol yang memiliki ukuran produktivitas cukup tinggi. Dengan demikian, petani mampu meraup keuntungan Rp 3 juta per dua bulan (sekali tanam).

    "Kami membudidayakan tanaman kol karena sangat cocok ditanam di daerah kami yang beriklim sejuk," kata Nengah Sukadi, seorang petani di desa setempat, Minggu, 13 September 2015.

    Sukadi menjelaskan ia membudidayakan tanaman kol jenis lokal di lahan seluas 60 are (1 are = 100 meter persegi) yang berlokasi di lahan pribadi, masih dalam kawasan Danau Buyan—salah satu danau terbesar di daerah itu. Menurut dia, lahan seluas itu dapat menampung sekitar 1.000 bibit kol yang didapat dari penjual bibit yang masih dalam lingkup desa setempat.

    Sukadi memaparkan, pada awal proses penanaman sampai proses panen, diperlukan waktu paling cepat 1,5 bulan dan paling lama 2 bulan. Selama periode tersebut, ia melakukan perawatan dengan memberikan pupuk organik buatan warga setempat dan selalu rutin memberikan tambahan pupuk kimia untuk mempercepat proses pertumbuhan tanaman kol.

    Mengenai modal pembudidayaan, ia mengatakan menghabiskan total biaya untuk beli bibit dan pupuk sampai Rp 1 juta dari awal penanaman hingga akhir (masa panen). Dalam satu kali masa panen, ia menghasilkan kol sebanyak 10 kuintal. Sebanyak 1 kilogram dijual dengan harga Rp 4.000 kepada pengepul yang siap menjualnya ke beberapa daerah di Denpasar dan beberapa kota lain di Bali.

    "Jadi, jika dipotong biaya benih dan pupuk, kami mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 3 juta, atau paling rendah Rp 1,5 juta setiap bulan," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.