Harga Avtur Tinggi, Menteri Jonan Lirik Pemasok Lain

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menhub Ignasius Jonan (tengah) memberikan keterangan kepada awak media setelah melakukan pemeriksaan di Bandara Internasional Adisucipto, di Yogyakarta, 21 Juli 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    Menhub Ignasius Jonan (tengah) memberikan keterangan kepada awak media setelah melakukan pemeriksaan di Bandara Internasional Adisucipto, di Yogyakarta, 21 Juli 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menawarkan solusi untuk ketersediaan avtur murah setelah Pertamina tidak mau menurunkan harga bahan bakar pesawat ini. Solusi itu adalah dengan cara memberikan izin pada perusahaan lain sebagai pemasok.

    “Ya lebih baik pemasok avtur jangan hanya Pertamina. Kalau ada yang minat silahkan,” ujar Menteri Jonan  saat mengadakan konfrensi pers di Ruang VIP Bandara halim Perdanakusuma, Sabtu, 12 September 2015.

    Pertamina sebagai pemasok avtur di bandara-bandara di Indonesia sempat diminta untuk menurunkan atau mengubah harga jual sesuai dengan harga internasional. Karena berdasarkan laporan PT. Angkasa Pura II, harga jual saat ini lebih mahal sekitar 20% dibandingkan dengan harga jual di bandara-bandara Internasional.

    Kendati mengerti tentang adanya biaya PPN yang dibebankan, namun Jonan berharap dengan turunnya harga avtur bisa turut mendorong persaingan pariwisata. Pasalnya harga bahan bakar mengambil bagian hingga 50% dari harga tiket. Lebih besar daripada biaya operasional. “Kalau mau harga tiket murah ya turunkan,” ujar mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia ini.

    Saat ini daya saing maskapai penerbangan di Indonesia masih kalah dibanding negara-negara tetangga terutama karena mahalnya avtur. Mahalnya harga avtur Pertamina ini disebut Jonan disebabkan oleh ketidakefisienan kilang-kilang Pertamina, bukan karena tingginya biaya distribusi avtur ke seluruh Indonesia.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.