Meski Ekonomi Melambat, BNI Genjot Kredit Sektor Konsumsi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank BNI 46. TEMPO/Dinul Mubarok

    Bank BNI 46. TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Alih-alih meningkatkan porsi kredit produktifnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado justru membidik kredit konsumer. Tujuannya adalah menggenjot kredit di tengah perlambatan ekonomi.

    Menurut Johnny R. Tampubolon, CEO BNI Wilayah Manado, sektor konsumer di Sulawesi Utara, terutama Manado, cukup potensial untuk digarap. Apalagi pertumbuhan ekonomi kawasan ini didorong tingginya pertumbuhan konsumsinya.

    “Secara historis, proporsi kredit kami masih didominasi sektor produktif. Pada Agustus ini, sektor produktif tercatat naik, sedangkan sektor konsumsi malah negatif,” ujarnya di Manado, Jumat, 11 September 2015.

    Mengutip data per Agustus 2015, penyaluran kredit tercatat tumbuh 102,10 persen jika dibandingkan dengan realisasi Desember 2014 (year-to-date). Jika dirinci, sektor produktif naik 7,48 persen pada Agustus dan konsumsi justru turun dibanding pada 2014.

    Khusus untuk sektor konsumsi, pihaknya bakal menyasar produk kredit tanpa agunan (KTA) bagi nasabah BNI. Dia menilai nominal produk KTA memang tidak besar, tapi tingkat kredit bermasalahnya juga minim.

    Pasalnya, Johnny menjelaskan, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mengalami kenaikan menjadi 2,6 persen per Agustus 2015. Padahal, sepanjang tahun lalu, rasio NPL tercatat sebesar 2,27 persen.

    “Dulu, kami sangat bergantung pada sektor konsumsi dengan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Tapi, sejak adanya kebijakan loan to value (LTV), porsinya tidak sebanyak sebelumnya,” ujarnya.

    Untuk mencegah kenaikan NPL akibat situasi perlambatan ekonomi, Johnny memiliki beberapa strategi khusus, di antaranya terus menjalin komunikasi yang intensif dengan debitur. Hingga saat ini, BNI lebih fokus menjaga kualitas kredit dibanding menggenjot kreditnya.

    “Ada beberapa nasabah yang terkena restrukturisasi atau schedule kembali kreditnya. Tapi, dari total debitur yang dimiliki BNI, hanya 1 persen yang terkena restrukturisasi,” katanya.

    Bukan hanya itu, jumlah aset per Agustus 2015 mencapai Rp 6 triliun atau naik 2,4 persen year-to-date. “Untuk jumlah dana pihak, ketiga kami belum bisa beberkan. Tapi, jika dihitung secara akumulasi sejak 2014-Agustus 2015, kami negative growth,” tuturnya.

    Pada saat yang sama, ia menjelaskan, rasio loan to deposit rate (LDR) masih berkisar 87 persen. Untuk mempertahankan loyalitas nasabah, BNI terus menggeber promosi e-channel, SMS banking, dan Internet banking.

    Layanan tersebut, ujar dia, merupakan poin penting bagi BNI untuk meningkatkan kemudahan dan akses nasabah terhadap produk-produk perbankan yang dimilikinya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.