Nilai Rupiah Makin Lemah, Terjun Bebas ke Rp14.301

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi melemah, bergerak turun 57 poin dari posisi terakhir kemarin menjadi Rp14.301 per dolar AS.

    "Laju rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar AS, penguatan pada hari sebelumnya hanya bersifat teknikal," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

    Reza mengatakan paket kebijakan tahap pertama yang diumumkan pemerintah Rabu (9 September 2015) untuk mendorong daya saing industri nasional, mempercepat proyek strategis nasional, serta meningkatkan investasi sektor properti diharapkan bisa menghadapi tantangan pelemahan ekonomi global.

    "Saat ini pelaku pasar sedang mengkaji berbagai langkah pemerintah, diharapkan direspons positif pasar sehingga dapat menopang mata uang rupiah," katanya.

    Di samping itu, lanjut Reza, ada harapan bahwa rencana pemerintah Tiongkok mengeluarkan stimulus guna mendorong perekonomiannya dapat meredakan gejolak pasar keuangan di kawasan Asia.

    Sementara pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa potensi rupiah kembali menguat masih terbuka setelah prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve) pada September tergerus penilaian bahwa perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat.

    "Data ekonomi Amerika Serikat masih bervariasi, di sisi lain bursa saham AS juga masih bergejolak, itu menandakan belum stabilnya perekonmian disana," katanya.

    Ia juga menambahkan rencana pemerintah Indonesia membolehkan warga negara asing membuka rekening dolar AS di Indonesia diharapkan dapat menjaga persediaan valas di dalam negeri.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.