Prudential dan OJK Bahas Manajemen Risiko Hadapi Krisis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Lefteris Pitarakis

    AP/Lefteris Pitarakis

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan Seminar Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Risk Management).

    “Acara ini untuk sharing sesama pelaku industri asuransi jiwa, media, ataupun masyarakat mengenai upaya-upaya manajemen risiko yang mungkin terjadi,” ujar Rinaldi Mudahar, Presiden Direktur Prudential Indonesia, Kamis, 10 September 2015.

    Industri asuransi memang tengah menjadi sorotan karena keperkasaannya di tengah perlambatan ekonomi nasional. Berdasarkan laporan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada awal September lalu, industri ini mencatatkan pertumbuhan yang positif.

    Pada kuartal II, total pendapatan premi asuransi jiwa meningkat sebesar 26,6 persen menjadi Rp 67,82 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 53,58 triliun.

    Pertumbuhan aset juga mengalami peningkatan sebesar 23,2 persen menjadi Rp 368,52 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Rp 299,22 triliun. Menurut Rinaldi kondisi ini merupakan hal yang wajar. ”Adanya gejolak ekonomi membuat orang akan lebih aware sama asuransi,” kata Rinaldi.

    Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non Bank OJK, mengatakan dia tidak terkejut melihat fakta menggembirakan pertumbuhan industri asuransi, baik jiwa ataupun umum. Menurut Firdaus, ketika masyarakat membeli polis asuransi, maka telah terjadi proses transfer risiko. Masyarakat pun mulai menyadari pentingnya mengasuransikan kehidupan finansialnya supaya merasa aman.

    “Risiko begitu banyak, sehingga ketika seseorang membeli polis asuransi dia mengharapkan risiko tersebut dapat dikelola dengan lebih baik,” ujarnya.

    Firdaus pun berkaca pada pengalaman di tahun 1998. Pada masa itu seluruh sektor perekonomian nasional terkena dampak dari krisis yang melanda, kecuali industri asuransi. “Industri perbankan collaps, tapi asuransi jiwa malah naik, asuransi umum juga, krisis 2008 juga begitu,” tambahnya.

    Firdaus mengungkapkan potensi asuransi jiwa di Indonesia masih sangat besar. Ia optimistis bahwa industri jiwa akan terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan asuransi. Saat ini jumlah perusahaan asuransi di Indonesia terus bertambah, beragam inovasi produk juga terus dilakukan, serta didukung dengan strategi promosi yang kian atraktif.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.