BCA Donasikan Rp850 Juta ke UNICEF Untuk Studi Anak Papua

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Raheb Homavandi

    REUTERS/Raheb Homavandi

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberi bantuan pendidikan senilai Rp850 juta kepada  UNICEF untuk Pendidikan Ramah Anak di Papua.

    Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Presdir BCA Jahja Setiaatmadja kepada Kepala Perwakilan Kantor UNICEF di Indonesia Gunilla Olsson di Menara BCA, Selasa (8 September 2015).

     

    Penyerahan donasi serta kerjasama dengan UNICEF untuk membangun Pendidikan Ramah Anak di Papua merupakan bentuk wujud nyata kepedulian serta perhatian BCA untuk membangun lingkungan positif bagi putra putri bangsa, khususnya yang berada di Papua.

     

    "Kami harapkan pengembangan Pendidikan Ramah Anak ini bisa berdampak secara signifikan ke depannya," kaya Jahja.

     

    Dalam program Pendidikan Ramah Anak, BCA dan UNICEF menghasilkan dua inovasi modul. Yakni modul sekolah yang aman dan kuat serta membangun masyarakat tangguh. Dalam modul sekolah yang aman dilakukan dengan pendekatan disiplin positif bagi guru sehingga diharapkan guru mampu mendisiplinkan para murid tanpa melakukan kekerasan fisik maupun verbal.

     

    Terdapat pula modul membangun masyarakat tangguh merupakan modul pendidikan nonformal yang mengajarkan masyarakat mengenai pencegahan kekerasa, hak gender, kesehatan reproduksi, komunikasi dan kecakapan hidup.

     

    Budaya, kata Jahja, dimuali dari pendidikan anak-anak. Untuk itu BCA menggugah perusahaan atau yayasan atau individu memberikan donasi untuk memajukan pendidikan di Indonesia, kata Jahja.

     

    Jahja mengatakan BCA sudah bekerjasama dengan UNICEF sejak 15 tahun yang lalu, namun bantuan khusus untuk Papua berlangsung sejak 3 tahun yang lalu.

     


  • BCA
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.