BI Sebut Pasar Uang Indonesia Rawan Guncangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Bank Indonesia menghitung uang kertas lama dan rusak, di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (5/6). Untuk menjaga kualitas uang beredar di masyarakat, BI menerapkan kebijakan untuk mengganti atau menukar uang tidak layak edar dengan uang yang layak edar. TEMPO/Imam Sukamto

    Petugas Bank Indonesia menghitung uang kertas lama dan rusak, di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (5/6). Untuk menjaga kualitas uang beredar di masyarakat, BI menerapkan kebijakan untuk mengganti atau menukar uang tidak layak edar dengan uang yang layak edar. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Edi Susianto, Direktur Pengelolaan Moneter Bank Indonesia mengatakan pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar sejak tahun 2013-sekarang, setelah dihantam krisis di tahun 2008.
    Edi menilai hal itu dikarenakan kurangnya persiapan untuk merespon shock dari dalam maupun luar negeri. “Pasar keuangan kita masih jauh dari posisi likuid, efisien, dan dalam,” ujarnya ketika mengisi sesi seminar bertema pendalaman finansial, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin 7 September 2015.

    Selain itu, Edi juga menilai struktur pasar bursa nasional masih tidak seimbang. Kurangnya sisi suplai terlihat dari fakta bahwa hampir 80 persen pasar bursa Indonesia diisi oleh spot market yang rentan akan guncangan. Sementara itu, transaksi antar bank juga didominasi oleh transaksi yang tidak aman. "Hanya 15-20 bank yang tercatat telah berkomitmen mengembangkan transaksi REPO (Repurchase Agreement), sedangkan 100-an sisanya masih belum," katanya.

    Karena itulah, kata Edi, Bank Indonesia memiliki perhatian yang besar terhadap upaya pendalaman finansial. Ketidakseimbangan dalam suplai dana, menurut Edi, menjadi tantangan bagi stakeholder terkait, termasuk Bank Indonesia. Semua pihak, kata dia, harus bekerjasama untuk memperkecil tingkat kerentanan pasar.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.