Pengusaha Hotel Minta Pembangunan di Lombok Diperlambat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan berjemur di sebuah hotel di pantai Senggigi, Lombok, NTB. TEMPO/Taufik Subarkah

    Wisatawan berjemur di sebuah hotel di pantai Senggigi, Lombok, NTB. TEMPO/Taufik Subarkah

    TEMPO.CO, Mataram - Maraknya kehadiran hotel baru di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadikan tingkat hunian kamar di Lombok merosot, hanya 30 persen. Karena itu, pemerintah daerah dan calon investor diminta untuk menghentikan pendirian hotel baru.

    Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Gusti Lanang Patra mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke Lombok memang bertambah. Tetapi pada saat yang sama jumlah kamar yang bertambah juga sangat banyak. ‘’Tidak berimbang. Biasanya rata-rata hunian 70 persen sekarang tinggal 30 persen,’’ kata Gusti Lanang Patra yang  juga General Manager Hotel Lombok Raya.

    Menurut dia, pertumbuhan kamar mencapai 30-40 persen setahun. Sedangkan angka kunjungan bertambahnya 10-20 persen. Karena itu, ia meminta dilakukan pengereman pembangunan hotel. Sekarang ini, sudah cukup banyak hotel yang sedang dibangun yang masing-masing hotel memiliki hingga 200 kamar. ‘’Tahun depan saja pertambahannya hingga 700an kamar,’’ ujar Lanang, Senin 7 September 2015.

    Usulan penghentian izin hotel baru itu demi melindungi usaha hotel yang sudah ada dan juga menghindarkan pengusaha baru tidak terjebak kemacetan usahanya. Kepala Badan Pusat Statistik NTB Wahyudin menjelaskan secara terpisah, hunian 3.546 kamar dari 53 hotel berbintang, rata-rata 3-24 persen. Sedangkan rata-rata lama menginapnya 2,16 hari.  Pada Juli 2015 bahkan ada yang huniannya nihil dan yang tertinggi 86,44 persen. Di hotel non bintang, dari hanya 114 hotel melati yang disurvey, hunian kamarnya 23,98 persen dan rata-rata lama menginapnya 1,59 hari saja.

    Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafid setuju permintaan penghentian izin baru pendirian hotel. ‘’Saya setuju moratorium hotel baru. Sekarang ini banyak dalam proses pembangunan dan belum beroperasi. ‘’Pasti akan over supply,’’ katanya.

    Untuk memajukan kunjungan wisata di Lombok dan Sumbawa tidak hanya bergantung keberadaan hotel semata. Tetapi juga ketersediaan penerbangan yang melayani tujuan ke Lombok dan Sumbawa.  

    Juli 2015 lalu, dari sejumlah 5.316 orang wisatawan yang langsung datang melalui Bandara Internasional Lombok (BIL) sebanyak 1.684 orang asal Malaysia, Inggris 511 orang dan Tiongkok 338 orang.

    Namun Lanang mengakui adanya kendala kemampuan apron yang hanya menampung delapan pesawat dan masih pendeknya landas pacu Bandara Internasional Lombok (BIL). Pemerintah menjanjikan perluasan apron dan perpanjangan landas pacu menjadi 3.000 meter agar bisa didarati pesawat Airbus 330 dan Boing 747.

    SUPRIYANTHO KHAFID 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.