IMF Naikkan Prediksi Pertumbuhan, Menkeu: Jangan Terbuai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat menggelar jumpa pers di Jakarta, 2 Juli 2015. ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

    Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat menggelar jumpa pers di Jakarta, 2 Juli 2015. ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan tak akan muluk-muluk memasang target tinggi pada tahun 2016, meskipun ada peluang perbaikan. Hal tersebut terlihat dari prediksi pertumbuhan ekonomi dunia versi IMF yang meningkat menjadi 3,8 persen dari 3,2 persen.

    Peluang perbaikan pertumbuhan ekonomi itu, ujar Bambang, didorong oleh prediksi kepastian kenaikan suku bunga acuan oleh Amerika Serikat dan penghentian devaluasi Yuan Cina. "Lagian, IMF kan biasa pasang prediksi tinggi di awal," ujar Bambang di Kompleks Parlemen Jakarta, Senin, 7 September 2015.

    Menurut Bambang, meskipun peluang tersebut kemungkinan besar terjadi, dirinya masih melihat situasi tahun ini sebagai patokan. G-20, katanya, sepakat pesimistis dengan perlambatan ekonomi dunia saat ini yang disebabkan oleh jebloknya harga komoditas.

    "Harga komoditas takkan kembali seperti tahun 2011, kalaupun naik, akan sangat sedikit," kata Bambang. Seperti yang diketahui, andalan penerimaan negara berasal dari komoditas mentah.

    Karena itu Bambang mengatakan asumsi makro 2016 yang sementara ini sudah ditetapkan lebih ke arah realistis ketimbang optimistis. "Lebih baik tak dipasang tinggi, kalau ada benar ada perbaikan anggap saja itu bonus," kata Bambang.

    Dalam kondisi saat ini, kata Bambang, Amerika Serikat masih mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan. International Monetery Fund menyarankan Negeri Abang Sam untuk merealisasikan rencana itu pada 2016. "IMF juga minta AS agar naikkan bunga tidak tinggi supaya tidak berdampak ke negara kecil," ujar Bambang.

    Melemahnya kondisi perekonomian global, Bambang mengatakan, juga mempengaruhi nilai jual komoditas. Ditambah lagi dengan rendah harga minyak mentah dunia. Harga komoditas ini pernah menyentuh US$ 40 per barel. "Kalau membaik pun sedikit."

    Meski adanya rencana The Fed menaikkan suku bunga acuan dan devaluasi yuan Cina, Bambang mengatakan IMF optimistis pertumbuhan di 2016 sebesar 3.8 persen. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan 2014 dan 2015. "IMF selalu pasang tinggi, tapi setelah itu diturunkan," ujarnya.

    ANDI RUSLI | SINGGH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.