Apartemen Belmont Rampung Akhir 2015, Dibanderol Rp 600 Juta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mitra Abadi Sukses Sejahtera, anak usaha perusahaan pengembang PT Perdana Gapura Prima Tbk, menargetkan, penyerahan unit apartemen Athena Tower Belmont Residence, Jakarta Barat, pada akhir tahun.

    Komisaris Mitra Abadi Sukses Sejahtera Arvin F. Iskandar mengatakan, Athena Tower merupakan tower terakhir yang dibangun perseroan dari total tiga tower di kompleks tersebut.

    "Ada 400 unit dan ini affordable dan lokasinya sangat strategis," ujarnya selepas acara penutupan atap (topping off) di lokasi proyek, Jalan Lapangan Bola, Meruya Ilir, Sabtu, 5 September 2015.

    Arvin mengatakan, lokasi yang strategis membuat para investor justru menjadikan unit mereka sebagai tempat tinggal. Dia menggambarkan, lokasi apartemen yang dikembangkan perseroan berada di dekat ruas tol lingkar luar Jakarta dan kawasan pusat bisnis Jakarta Barat.

    Arvin menyebut, lokasi Belmont Apartment bisa diakses dari Puri Indah, Kebon Jeruk, dan Permata Hijau.

    Menurut Arvin, tower Athena telah dibangun sejak 2014 dan saat ini proses pembangunan telah memasuki tahap akhir. Dia menerangkan, pembangunan yang relatif singkat tersebut merupakan komitmen perseroan terhadap pembeli.

    Dia mengatakan, penjualan unit di tower Athena telah mencapai 60-70 persen dengan rentang harga Rp 600 juta hingga Rp 1,9 miliar. Unit yang ditawarkan Mitra Abadi Sukses Sejahtera terbagi dalam enam tipe dengan luas mencapai 17,91-55,37 meter persegi. Separuh unit yang ada di tower unit merupakan tipe studio dengan luas paling kecil.

    Sebelumnya, di kompleks Belmont Residences juga telah dibangun dua tower, yakni tower Everest dan Mount Blanc yang tingkat keterisian atau okupansinya telah mencapai 95 persen.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.