PHK? Siapa Takut; Buruh Ini Ciptakan Mesin Penetas Telur Otomatis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turmudi, seorang buruh pabrik sepatu di Kabupaten Serang, menciptakan mesin penetas telur otomatis untuk unggas. TEMPO/Darma Wijaya

    Turmudi, seorang buruh pabrik sepatu di Kabupaten Serang, menciptakan mesin penetas telur otomatis untuk unggas. TEMPO/Darma Wijaya

    TEMPO.CO, Serang - Di tengah ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap para buruh akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Turmudi, seorang buruh di Kota Serang berkreasi dengan menciptakan mesin penetas telur otomatis untuk unggas yang nilainya mencapai jutaan rupiah. Mesin penetas telur dijadikan oleh Turmudi sebagai mata pencaharian sampingan, selain ia tetap bekerja sebagai buruh di perusahaan pembuatan sepatu di wilayah Serang. Dari hasil karyanya itu, dalam satu bulan buruh tersebut mampu meraup keuntungan rata-rata lima juta rupiah.

    Turmudi, warga Kelurahan Kaligandu, Cinanggung, Kota Serang, menciptakan dua jenis mesin sederhana penetas telur, yakni jenis semiotomatis dan full-automatic.

    Mesin penetas telur ayam yang diciptakan oleh pria lulusan sekolah menengah kejuruan tahun 2009 ini berbahan dasar kayu tripleks yang dibentuk menjadi bidang kubus. Alat tersebut oleh Turmudi kemudian dilengkapi dengan dua buah lampu, termostat, termometer, saklar, dan motor penggerak.

    Setiap tiga jam sekali tempat penetasan telur akan berputar secara otomatis oleh motor penggerak, agar setiap butir telur yang ditetaskan di dalam mesin penetas telur ini menetas secara menyeluruh. Turmudi mengatakan, "Satu unit mesin penetas telur mampu menampung lima puluh hingga dua ratus telur."

    Tiap-tiap jenis mesin penetas telur otomatis unggas, tutur Turmudi, bernilai tiga ratus lima puluh ribu rupiah hingga satu juta rupiah per unit. Turmudi mengatakan bahwa dalam satu bulan ia mampu menjual sepuluh unit mesin penetas telur ke pasar domestik.

    "Saya pasarkan ke wilayah Banten, Jakarta, Depok, hingga ke Sumatera," kata Turmudi. Dalam satu bulan, Turmudi mengaku, mampu meraup penghasilan rata-rata Rp 5 juta.

    Turmudi mengakui, adanya ide mesin penetas telur otomatis untuk unggas ini berawal dari hobi, yang kemudian dikembangkan menjadi karya yang mempunyai nilai ekonomi. Mesin penetas telur ini oleh Turmudi dijadikan sebagai mata pencaharian sampingan untuk menambah penghasilan, selain menjadi buruh di pabrik sepatu.

    Dengan adanya mesin penetas telur yang diciptakannya ini, Turmudi tidak  merasa cemas  jika suatu saat dirinya terkena PHK.

    "Sama sekali ndak cemas kalau ada PHK. Malah dengan bikin mesin ini, saya lebih senang," kata Turmudi. Tentu Turmudi lebih senang karena penghasilan yang diperoleh dari pembuatan mesin penetas telur otomatis ini lebih besar daripada upah minimum buruh di wilayah Banten.

    DARMA WIJAYA

    Simak Videonya:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.