Lapangan Migas Indonesia Hasilkan Hanya 10 Persen Minyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Wiratmaja (kedua kanan) bersama Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto (kanan), Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng (kiri), dan Kepala BPH Migas Andi Sommeng (kedua kiri) mengisikan bahan bakar Ron 90 Pertalite dalam peluncurannya di SPBU kawasan Tanah Abang, Jakarta, 24 Juli 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Wiratmaja (kedua kanan) bersama Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto (kanan), Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng (kiri), dan Kepala BPH Migas Andi Sommeng (kedua kiri) mengisikan bahan bakar Ron 90 Pertalite dalam peluncurannya di SPBU kawasan Tanah Abang, Jakarta, 24 Juli 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro mengatakan cadangan migas Indonesia sudah semakin menipis.

    Sejak 1995 hingga 2013, tercatat hampir semua lapangan migas Indonesia hanya menghasilkan 10 persen minyak, sementara 90 persen sisanya air.

    "Kalau dulu, sebelum 1980, kebalikannya, minyak masih 90 persen dan air paling cuma 10 persen," kata Elan dalam acara Edukasi dan Temu Media bersama SKK Migas dan Total E&P Indonesie di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

    Sayangnya, saat itu harga minyak masih murah, yakni 10-30 dolar Amerika Serikat per barel, berbeda dengan harga minyak sekarang yang sekitar 60 dolar AS per barel.

    Elan berujar, migas merupakan "tulang punggung" pembangunan Indonesia sejak dulu. Namun sekarang kapasitas produksi semakin menurun. Hal itu diperparah dengan kurang meratanya pembangunan infrastruktur migas.

    Elan menuturkan, jika harga minyak dunia semakin menurun, dikhawatirkan para kontraktor migas merugi.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.