ADB: No Comment Soal Kereta Cepat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta api supercepat atau biasa disebut maglev, meluncur dengan kecepatan tinggi di Yamanashi Maglev Test Track. Kereta ini dikembangkan oleh Central Japan Railway Co. Yamanashi Prefecture, Jepang, 4 Juni 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    Kereta api supercepat atau biasa disebut maglev, meluncur dengan kecepatan tinggi di Yamanashi Maglev Test Track. Kereta ini dikembangkan oleh Central Japan Railway Co. Yamanashi Prefecture, Jepang, 4 Juni 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Vice President Bank Pembangunan Asia Bambang Susantono menolak mengomentari rencana pemerintah Joko Widodo membangun proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. “Saya tidak mau mengomentari. Dan, belum ada diskusi soal itu,” ucap mantan Wakil Menteri Perhubungan itu, Kamis, 3 September 2015.

    Menurut Bambang, ada tiga konsep penting dalam membangun infrastruktur yang besar. Ia menyebutnya dengan “3S”.

    Pertama, kata Bambang, sustainability atau keberlanjutan operasi dan pemeliharaan. Dengan demikian, tidak hanya membangun, tapi juga memikirkan apa kelanjutannya setelah dibangun. Kedua, safety. Keselamatan berlaku untuk semua hal. Ketiga, spasial atau ruang.

    Dia mengatakan, dalam membangun infrastruktur, harus juga dilihat kaitannya dengan perkembangan tata ruang dan tata guna lahan. “Karena kita, kan, tidak mau dibangun lalu mangkrak,” kata Bambang.

    Adapun Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyatakan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung bukan suatu kepentingan yang mendesak untuk dilakukan. Menurut Ketua MTI Danang Parikesit, gagasan ini sudah muncul pada era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono.

    Danang mengatakan penting-tidaknya pembangunan kereta cepat bergantung pada kesiapan pemerintah melakukan investasi di luar Jawa. Sebab, di luar Jawa, infrastruktur masih belum lengkap. Menurut dia, jika pemerintah sudah siap, artinya proyek ini masih relevan. “Jadi tanya pemerintah dulu, ada tidak biaya untuk luar Jawa? Kalau tidak, ya, kita tolak,” tuturnya.

    Indonesia, kata Danang, masih menghadapi masalah kesenjangan transportasi, terutama antara Jawa dan luar Jawa. Selain itu, ditakutkan kereta cepat ini bisa mematikan salah satu angkutan yang sudah ada, seperti kereta api reguler.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.