Jokowi Ingin LAPAN Bikin Penelitian yang Dibutuhkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat meresmikan pelepasan satelit ekuatorial pertama Indonesia, LAPAN A2, di pusat teknologi satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Bogor, 3 September 2014. Satelit tersebut untuk memantau wilayah kemaritiman Indonesia. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo saat meresmikan pelepasan satelit ekuatorial pertama Indonesia, LAPAN A2, di pusat teknologi satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Bogor, 3 September 2014. Satelit tersebut untuk memantau wilayah kemaritiman Indonesia. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo ingin Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) terus mengembangkan satelit pemantauan untuk berbagai kebutuhan, seperti untuk kepentingan pertanian, cuaca, dan maritim. Dia menilai pemantauan yang dilakukan dari atas sangat bermanfaat bagi pemerintah.

    Dia berjanji memberikan porsi anggaran lebih untuk penelitian pengembangan riset. "Penelitian-penelitian yang konkret yang dibutuhkan oleh negara ini dalam visi kita ke depan, baik untuk pangan, energi, maupun maritim," kata Jokowi di kantor LAPAN, Bogor, Kamis, 3 September 2015. Jokowi ingin penelitian harus benar-benar diseleksi sebelum dilakukan karena penelitian bisa berhasil, bisa juga tidak.

    Hari ini Presiden melepas satelit ekuatorial pertama Indonesia, LAPAN A2, di pusat teknologi satelit LAPAN, Bogor. LAPAN A2 merupakan satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya karya anak bangsa. Satelit berbobot 78 kilogram tersebut membawa misi pemantauan permukaan bumi, identifikasi kapal laut, dan komunikasi radio amatir.

    Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan pihaknya mengembangkan satelit sejak tahun 2003. Satelit berfungsi untuk menjaga pulau-pulau terluar di Indonesia. Saat ini LAPAN dan IPB bekerja sama mengembangkan satelit LAPAN A3 untuk pemantauan daerah pertanian dan juga mendeteksi kapal-kapal.

    Lembaga ini sedang mempunyai beberapa program utama untuk mendukung kebijakan berbasis pengamatan iklim dan pengindraan jarak jauh. Misalnya, pengembangan pesawat tanpa awak untuk sistem pemantauan maritim, pengembangan aplikasi zona penangkapan ikan untuk nelayan, pengembangan roket sipil untuk kepentingan penelitian seperti menjadi basis rencana pembuatan roket peluncur satelit, serta menjadi bank data pengindraan jarak jauh untuk melayani kebutuhan data citra semua kementerian.

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.