Pasar Modal Turun, OJK Terbitkan Formula Risk Based Capital

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali (KOMUNIKA)

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali (KOMUNIKA)

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan segera menerbitkan aturan perubahan formulasi penghitungan risk based capital (RBC) sementara untuk meringankan beban perusahaan asuransi di tengah tertekannya pasar modal.

    Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK, mengatakan, portofolio aset investasi instrumen pasar modal terus tertekan dan berpotensi menggerus tingkat solvabilitas perusahaan saat ini.

    “Ketentuan perubahan itu kemungkinan diteken hari ini. Karena situasi pasar modal yang menurun sedangkan banyak perusahaan asuransi yang asetnya 80-90 persen di pasar modal,” katanya, Jumat, 28 Agustus 2015.

    Firdaus mengatakan formulasi yang akan diubah adalah soal penghitungan modal minimum berbasis risiko (MMBR). Dia mengatakan MMBR yang harus dipenuhi akan dikurangi sebesar 50 persen dari kapasitas selama ini.

    MMBR merupakan salah satu komponen penghitung rasio RBC selain tingkat solvabilitas dan Kelebihan atau Kekurangan Batas Tingkat Solvabilitas. Kendati formulasi berubah, dia mengatakan batas minimal rasio RBC akan tetap sama seperti aturan selama ini, yaitu konvensional 120 persen dan syariah 30 persen.

    Dengan perubahan formulasi, Firdaus mengatakan meskipun nilai aset dalam instrumen saham dan reksadana turun, perusahaan asuransi tetap bisa menjaga RBC di atas batas yang ditentukan.

    “Kami kan dorong mereka investasi di pasar modal. Jangan karena situasi ini, pemilik perusahaan tertekan untuk tambah modal. Ini yang kami ingin agak ringankan,” ujarnya.

    Dia mengatakan kebijakan perubahan formulasi RBC tersebut akan dilakukan sementara yakni hingga akhir 2015. “Nanti dilihat lagi bagaimana kondisi global dan dalam negeri, lalu kami evaluasi dan kembali tindaklanjuti,” ujarnya.

    Adapun, Firdaus mengatakan kebijakan serupa juga akan diterapkan dalam industri dana pensiun dalam menghitung rasio kecukupan dana (RKD).

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.